parade pagi babi babi

Ujung timur tebet, 25 Februari 2011, 02.15WIB


babi babi bangun sudah pagi pagi

beraneka babi menyongsong hari

mengayun langkah berangkat pergi

berebut secuil riski di negeri babi

babi berdasi berbau wangi

babi pasar beraroma ikan teri

babi gendut, kurus, pendek dan tinggi

perempuan, laki, dan banci

berdesak disana sini

bercampur dengan monyet, anjing dan sapi

tetap babi mendominasi

dari terminal ke stasiun kereta api

di dalam angkot dan bis reot

menunggang motor, mobil, juga berjalan kaki

menjadi pepes

menjadi dendeng

diasap polusi

diinjak, didorong, dan ditindih

nyawa babi di meja judi

sulit betul hidup si babi

babi babi tak pernah nikmati pagi

pagi babi penuh emosi

bertukar maki

bertukar caci

tai!

monyet!

dasar babi!

sampai bertemu sore nanti

I**OTEN

Ujung timur tebet, 22 Februari 2011, 01.15WIB


Dia pernah berdiri disana

Telanjang

Memamerkan dengan gamblang

tiap lekuk dan sudutnya

Lembah dan gunungnya

Hutan dan sungainya

Indah

Jengkal demi jengkal kenikmatan

yang menyulut bara gairah

Jelita

Merayu mempesona

Memanggilku dengan mesra

Merdu

Mengundangku datang mengecupnya,

memeluknya,

membelainya,

mencumbunya


Katanya,

mari lekas puaskan birahi

Menguras hasrat

Menumpah rindu

Bulir peluh menjelma

lautan kepuasan menjadi

Kenikmatan tiada tara

Tak usah kau pedulikan duri

Karena cinta menyembuh luka

Tak usah lagi hiraukan perih

Karena cita menulis bahagia


Tapi aku masih bergeming ragu

Aku tak punya cukup cinta

Tak cukup kuat menahan luka,

tak berani mencicip perih,

tak sanggup menggapai cita

I**oten


Maka kubiarkan ia berlalu

Membawa semua rindu

Tanpa sempat mengecupnya,

memeluknya,

membelainya,

mencumbunya

I**oten!


Lalu kataku,

Apa pula peduliku!


Tapi benarkah?!

PKS: Pasar Keadilan Sejahtera

Ujung timur tebet, 10 Februari 2010, 01.10WIB


Pasar. Apa yang menarik dari sebuah tempat yang penuh dengan manusia berbagai rupa, saling berteriak dan berdesakan. Apa yang menarik dari sebuah tempat yang memberi panggung luas kepada sifat rakus manusia untuk menari sambil menyanyikan lagu eksploitasi. Apa yang menarik dari sebuah tempat berkumpulnya pencari rente, tukang peras, tukang pukul dan jagoan kampung. Apa yang menarik...


Eits, tunggu dulu kawan. Kau terlalu berburuk sangka. Pada dasarnya, sungguh pasar memiliki peran yang sangat mulia. Banyak orang pintar dari seluruh penjuru angin telah menuliskan berhalaman-halaman teori tentang kemuliaan pasar. Coba saja kau bayangkan jika tidak ada pasar, maka tidak akan ada perdagangan. Dan jika tidak ada perdagangan maka bagaimana pula kita akan memenuhi kebutuhan kita. Yang punya uang tidak bisa menggunakan uangnya, sedang yang tidak punya pun tidak berpeluang untuk mendapatkannya. Singkatnya kawan, para pakar telah memuja pasar karena perannya yang mulia dalam mendistribusikan kekayaan dan melahirkan kesejahteraan. Maka mari kita lupakan dulu sejenak wajah bopeng pasar hari ini dan kita selami hakikat keberadaannya agar kita bisa mengambil manfaat darinya.


Hasil penelusuran di wikipedia, secara formal pasar diartikan sebagai sebuah sistim, institusi, prosedur, hubungan sosial dan infrastruktur dimana transaksi atas barang dan jasa dilakukan. Melalui prosesi perdagangan inilah pasar menjalankan fungsinya mendustribusikan kekayaan dan kesejahteraan. Pasar memungkinkan terbentuknya nilai atas suatu keluaran produksi yang dengannya keluaran itu ditebus oleh orang yang meminatinya. Kemudian pasar memungkinkan nilai-nilai ini diakumulasikan dan dipertukarkan. Akumulasi berarti pertumbuhan sedang pertukaran berarti pendistribusian. Maka kesimpulannya pasar memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan pemerataan kesejahteraan.


Bingung? Tidak usah bingung kawan. Sederhananya pasar adalah tempat kita mencari uang dari apapun yang bisa dijual. Dengan uang itu, kita akan membelanjakannya lagi untuk memenuhi kebutuhan diri kita. Maka di pasar, uang akan berpindah tangan entah berapa kali. Mungkin itu juga sebabnya kita sering mendapati lembaran uang yang begitu lecek lagi kumal. Dan kalau kita beruntung kawan, uang yang kita peroleh bisa lebih banyak dari yang kita belanjakan hingga kita berkesempatan untuk mengumpulkannya sedikit demi sedikit dan lama-lama menjadi gunung. Nah, sekarang tahulah kita bagaimana pasar memberikan peluang bagi setiap kita untuk menjadi kaya dan sejahtera.


Kawanku yang professor sangat yakin dengan keistimewaan pasar dalam urusan mensejahterakan ini. Bahkan menurutnya, kemiskinan bisa diatasi dengan membantu mereka yang miskin memanfaatkan keberadaan pasar. Celotehnya lagi, memberikan modal usaha saja tidaklah cukup jikalau mereka pada akhirnya gagal masuk ke dalam pasar untuk menukarkan hasil usahanya dengan uang.


Aku pikir kawanku yang professor dari negara yang terkenal miskin itu ada benarnya juga. Kita bisa memanfaatkan keberadaan pasar untuk membangun ekonomi kita sendiri. Toh, bukankah hakikat keberadaan pasar adalah memang untuk memfasilitasi pertumbuhan dan pemerataan kesejahteraan. Maka sejatinya kalau kita mau meningkatkan kesejahteraan diri kita, kita bisa memulainya dengan membangun pasar kita sendiri. Aku kira kita sangat mungkin melakukan ini dengan potensi kita sebagai sebuah komunitas dan tentunya bukan sembarang komunitas.


Di pasar milik kita ini kelak kita akan saling melakukan transaksi diantara kita. Kau akan membeli dari aku dimana engkau akan menjual kepada dia dan dia membeli dari mereka dan demikian seterusnya. Dengan demikian kita akan saling menukarkan nilai tambah atas sesuatu yang kita jual masing-masing. Kita akan saling bahu membahu mengumpulkan selembar demi selembar kesejahteraan dengan perdagangan yang kita lakukan. Di pasar milik kita, setiap nilai tambah yang tercipta akan kita bagikan dan kumpulkan di antara kita dan untuk kesejahteraan kita.


Inilah pasar kita, kawan. Dimana transaksi ekonomi antara kita bukan hanya akan dirasakan manfaatnya oleh aku dan kau tapi juga kita semua. Inilah pasar kita, kawan. Dimana kita akan belajar untuk menjadi produktif, kreatif, kompetitif dan mandiri. Inilah pasar kita, kawan. Dimana kita akan sejahtera bersama-sama. Inilah pasar kita, kawan. Pasar Keadilan Sejahtera!

30 Tahun Mencari Apa?

Ujung timur tebet, 22 January 2011, 02.10 WIB


satu lagi pendarnya mati

di antara selebrasi

yang tak pernah bisa dipahami

sementara waktu

yang tak pernah berhenti maju

meninggalkanku

terengah-engah diparuh waktu


telah hilang jejak tersapu masa

tak kulihat lagi aku di hadapan dunia

dimana aku yang telah lalu

adakah aku dulu,

kini dan nanti


bagaimana aku kan di ujung waktu

akankah mereka mengingatku

sebagai apa seperti apa

pernah adakah aku dulu, kini dan nanti


kepada engkau yang telah kutuliskan cinta

kumohon simpan kecup manismu hari ini

untuk lembar obituariku nanti

disaat semua selebrasi lebih memiliki arti

Tuti

Ujung timur tebet, 23 desember 2010, 01:20 WIB


sebentar lagi

emak bapak

tuti kembang desa

kerbauku slamet

kicau si badut

kopi tubruk

singkong rebus

embun pagi

emak bapak

tuti kembang desa

kali

sawah

kidung senja

hening

rembulan

emak bapak

tuti kembang desa

”Maaf, Tiket Habis!!”

Ganjil

Ujung Timur Tebet, 21 Desember 2010 03:15WIB

ia mencintaiku dengan ganjil
ada di antara tiada
tak nyata namun terasa
tersembunyi tak terungkap
lembut, hangat
suci, bersahabat
aku mencintainya dengan ganjil
ada namun tiada
nyata tanpa rasa
terumbar dalam kata
lembut, hangat
palsu, khianat
tapi ia tetap mencintaiku
begitu ganjil

MENELUSURI KELUHURAN PASAR DAN LEMBAGA KEUANGAN

Ujung timur tebet, 6 Oktober 2010, 01:35WIB


Peradaban manusia berubah dan berkembang mengikuti semakin rumitnya pola hubungan antar manusia. Kemampuan manusia untuk berpikir memungkinkan dirinya menciptakan inovasi sebagai solusi atas segala permasalahan yang ditemuinya di dalam hidup sehingga dapat berdamai dengannya. Kelebihan inilah yang mungkin menyebabkan manusia menjadi spesies paling tahan lama di atas bumi. Manusia mampu menyesuaikan diri dengan berbagai macam keadaan dan menjawab semua tantangan zaman.


Tak terkecuali pasar dan lembaga keuangan. Ia adalah hasil buah pikir manusia dalam menjawab tantangan kehidupan dalam hal ekonomi. Kompleksitas pasar, lembaga keuangan, dan segala instrumennya hari ini adalah sebuah jawab manusia atas tuntutan untuk memperoleh kesejahteraan ekonomi yang lebih baik untuk semua. Kalaupun dalam prakteknya boleh jadi, dan sudah terbukti, tidak demikian adalah suatu hal yang lain. Maka untuk meresapi semangat luhur dari inovasi di pasar dan lembaga keuangan, sangat bermanfaat untuk melihat fase-fase yang telah dilewati oleh pasar dan lembaga keuangan hingga hari ini.


Mari kita mulai dari titik nol, dimana manusia masih melakukan transaksi ekonomi secara sederhana. Bukan, bukan itu. Ini lebih maju daripada transaksi primitive tukar barang atau yang lazim disebut barter. Di sini pertukaran sudah dilakukan dengan menggunakan mata uang hanya saja perpindahannya hanya dapat dilakukan melalui perdagangan barang maupun jasa.


Dan demi kepentingan kita kembali ke titik nol ini yaitu untuk memahami semangat luhur tercipatanya pasar dan lembaga keuangan, mari kita buat ilustrasi sederhana yang mungkin agak ekstrim sebagai berikut.


Sebutlah dalam perkenomian di titik nol ini hanya terdapat dua orang homo economicus: A dan B. A adalah orang yang diberkahi Tuhan dengan kepemilikan atas sumber daya berlebih dan menjadi sangat kaya raya. Sedangkan B, kasih sayang Tuhan menghantarkannya menjadi orang yang berkekurangan namun penuh kesabaran. A memiliki kekayaan sebesar tiga ribu dinar dan mengkonsumsi dua ribu dinar sehingga tersisa seribu dinar di kotak uangnya karena tak punya lagi kapasitas untuk memanfaatkannya. Si miskin B memiliki seribu dinar dan mengkonsumsi semuanya hingga tak ada lagi yang tersisa walaupun masih membutuhkan. Dalam kondisi seperti ini keluaran perekonomian titik nol ini berjumlah tiga ribu dinar dengan seribu dinar menganggur tak termanfaatkan di kotak uang si kaya A plus potensi produktivitas B yang terabaikan karena tak punya cukup dinar.


Kiranya A dapat memberikan dinarnya yang tersisa kepada B atau B dapat memanfaatkan dinar yang teronggok di kotak uang A, tentulah keluaran ekonomi akan menjadi lebih besar, mengisyaratkan kesejahteraan yang bertambah. Maka kemudian kita beranjak dari titik nol. Untuk itu mari kita hadirkan satu lagi homo economicus:bank.


Bank hadir mengambil peran perantara yang menghubungkan A yang berlebihan dana dengan B yang membutuhkan dana. Sederhananya seperti ini. Bank bersedia menjadi tempat penitipan uang bagi A dan menjamin keberadaannya bahkan memberikan tambahan atas uang tersebut. Dan demi memberikan tambahan tersebut, bank akan meminjamkan uang A kepada B dan memungut pula tambahan atas uang yang dipinjamkan. Tentu tambahan yang dipungut jumlahnya lebih besar dari yang akan diberikan karena dengan begini bank dapat memperoleh keuntungan sehingga mau mengambil peran sebagai perantara. Oh ya, singkirkan dulu yah perdebatan mengenai boleh tidaknya praktek ambil keuntungan seperti ini karena bukan ini maksud dan tujuan kita jauh-jauh pergi ke titik ini.


Dengan hadirnya bank, di titik nol plus satu ini, konfigurasi perekonomian akan menjadi seperti ini. A mengkonsumsi dua ribu dinar dan menitipkan seribu sisanya kepada bank. Bank meminjamkan seribu dinar tersebut kepada B. Kemudian B mengkonsumsi seribu dinar ditambah seribu dinar hasil pinjamannya sehingga konsumsinya menjadi dua ribu pula. Lalu Bank memungut tambahan dari B sebesar seratus dinar dan memberikan lima puluh dinar untuk A dan mengambi sisanya sebagai keuntungan. Dengan hadirnya bank keluaran ekonomi naik menjadi empat ribu. (A:2000 B:2000). Dan tentu tumbuhnya ekonomi menandakan peningkatan kesejahteraan.


Sampai sini tentu sudah terasa bukan semangat luhur dari hadirnya lembaga keuangan. Lalu bagaimana dengan pasar? Sabar sebentar. Mari kita berjalan lagi ke titik nol plus satu plus satu.


Sebagai manusia eknomis, A dan B tentu selalu ingin mendapatkan keuntungan lebih dari transaksi ekonominya. Oleh karena itu A pun mulai berpikir untuk mendapatkan keuntungan lebih dari dinarnya yang menganggur. Sedang B juga berpikir bagaimana untuk mendapatkan pinjaman yang lebih murah. Gayung pun bersambut, A dan B kemudian bertemu di sebuah tempat dan melakukan perjanjian bahwa A akan meminjamkan kelebihan dananya yang sebesar seribu dinar kepada B dengan syarat B akan mengembalikannya dengan tambahan sebesar delapan puluh dinar. Maka semuanya senang. A akan dapat lebih banyak dibandingkan menitipkan uangnya kepada bank dan B membayar lebih sedikit untuk uang yang dipinjamnya.


Di tempat itu, yang kemudian disebut pasar modal, beredarlah berbagai macam perjanjian antara orang-orang kelebihan uang seperti A dan membutuhkan uang layaknya B. Perjanjian itu bisa berbentuk hutang-piutang ataupun kerjasama permodalan. Intinya, pasar memfasilitasi pertumbuhan ekonomi dengan ongkos yang lebih murah. Maka betapa tak kalah luhurnya motivasi hadirnya pasar dalam perekonomian di titik nol plus satu plus satu.


Sudah semakin dapat meresapi keluhuran dibalik keberadaan pasar dan lembaga keuangan? Kalau sudah mari kita beranjak lebih jauh lagi dari titik nol. Dan beginilah ceritanya.


Tidak ada yang pasti dalam hidup ini dan tidak ada pula yang dapat memastikan apa yang akan terjadi hari ini, esok hari atau lusa nanti. A dan B pun sangat meyakini akan hal ini. A mulai mengalami keraguan untuk meminjamkan dinar-dinarnya yang berlebih. Bagaimana kalau ternyata B tidak melunasi hutangnya? atau imbalan dan pinjamannya tidak seperti yang dijanjikan atau diharapkan? Pun demikan B yang ragu untuk meminjam uang karena takut tidak dapat mengembalikanya. Bagaimana kalau usahanya bangkrut? Bagaimana jika harga jual produknya turun sehingga hasil usahanya tak sesuai harapan? Kalau sudah begini A tidak mau meminjamkan uang dan B urung meminjam uang untuk meningkatkan produktivitasnya.


Ketidakpastian atau risiko pun menjadi penghalang tumbuhnya perekonomian. Lalu bagaimana nasib pasar dan lembaga keuangan yang sudah hadir dengan segala keluhurannya? Menjadi mandul dalam menjalankan fungsi intermediasi dan pendorong pertumbuhan ekonomi?


Di titik nol plus satu plus satu plus satu ini, semangat luhur yang melatarbelakangi hadirnya pasar dan lembaga keuangan mengejawantah dalam perkembangan keduanya beserta produk-produknya yang memungkinkan dilakukannya pengelolaan risiko. Kompleksitas lembaga keuangan dan instrumennya yang telah berkembang di titik ini memungkinkan ketidakpastian untuk dapat dikendalikan. Dengan begini arus dana dari A dan B tetap dapat terjadi tanpa perlu ada yang dikhawatirkan. Maka mari kita hadirkan asuransi dan instrument derivative sebagai fasilitator untuk A dan B mengusir keraguannya. Hasilnya: ekonomi tetap tumbuh, kesejahteraan tetap meningkat.


Sepertinya di titik ini kita harus berhenti karena semuanya pun sudah lebih jelas. Hikmahnya? Pasar dan lembaga keuangan hadir untuk memungkinkan perpindahan dana dari mereka yang berlebih kepada mereka yang membutuhkan. Pasar dan lembaga keuangan memungkinkan alokasi sumber daya (dana) secara efisien sehingga tidak ada yang tidak termanfaatkan. Keduanya mendorong produktivitas yang berujung pada pertumbuhan ekonomi yang juga berarti kesejahteran.


Itulah semangat luhur di balik perkembangan keduanya yang hari ini menjadi kompleks. Dan kalau hari ini semangat itu sudah luntur hingga tidak terasa lagi pada kenyataanya, dimana pasar dan lembaga keuangan lebih sering menjadi biang keladi terjadinya krisis, menguntungkan yang satu dan mempailitkan yang lain, mungkin kita harus segera beranjak ke titik plus berikutnya dari titik ini. Mengutip kata Sitglitz: kalau kecelakaan kerap kali terjadi di sebuah jalan maka kita harus memperbaiki jalannya bukan pengemudinya.