Ujian Pujian
Ujung timur tebet, 3 November 2019
Jika sempat puja-puji manusia menghampiri
Jangan menghindar pergi
Genggamlah dengan jemari
Tapi,
Jangan simpan dalam lemari hati
Biar tidak sedih saat berlalu pergi
Jika sempat puja-puji manusia datang
Sambutlah dengan hati riang
Bibir senyum mengembang
Senang
Tapi ikatlah hatimu kencang-kencang
Biar tidak sempat ia terbang
Jika sempat puja-puji manusia menimpa
Bolehlah bernafas lega
Mengganti lelah atas keras usaha
tak sia-sia
Tapi dahului dengan syukur padaNya
Biar tidak singgah rasa jumawa
Dan jika sempat manusia menghadiahi puja-puji
Terimalah dengan wajah berseri
Jangan simpan sendiri
Lekaslah berbagi
Dengan mereka yang mengihklas diri mengangkatmu tinggi-tinggi
Kepada mereka,
Aku berhutang puja-puji
Kepada mereka,
Aku berhutang budi
Kepada mereka,
Aku memberi hormat
Kepada mereka,
Aku mendaras doa bermunajat
Semoga Tuhan dan malaikat
Menyebut namamu di dalam jannaat
Bicara bahasa cinta
Ujung timur tebet, 27 Oktober 2019
Kenapa harus bicara bahasa berbeda
Mengeja kata yang janggal dalam rasa
Pada tiap kalimat melompat asing dalam minda
Sedang kita
Bisa bercakap akrab
Dengan bahasa yang sama
Bahasa cinta
Ataukah kita tak kenal lagi cinta
Atau mengenal cinta yang tak sama
Tapi bukankah cinta bersemayam dalam nurani
Sedang nurani adalah suci
Azazi
Hakiki
Sejati
Ah, rupanya syahwat, nafsu dan ambisi
Berkomplot membunuh nurani
Menikam dengan kejam
Berkali-kali, lagi dan lagi
Menguburnya di palung hati paling dalam
Dan akhirnya
Kita terlalu kelu mengucap cinta
Lebih fasih melafal angkara
Pantaslah kita tak pernah bisa bicara
Walau pernah bersumpah berbahasa sama
Kenapa harus bicara bahasa berbeda
Mengeja kata yang janggal dalam rasa
Pada tiap kalimat melompat asing dalam minda
Sedang kita
Bisa bercakap akrab
Dengan bahasa yang sama
Bahasa cinta
Ataukah kita tak kenal lagi cinta
Atau mengenal cinta yang tak sama
Tapi bukankah cinta bersemayam dalam nurani
Sedang nurani adalah suci
Azazi
Hakiki
Sejati
Ah, rupanya syahwat, nafsu dan ambisi
Berkomplot membunuh nurani
Menikam dengan kejam
Berkali-kali, lagi dan lagi
Menguburnya di palung hati paling dalam
Dan akhirnya
Kita terlalu kelu mengucap cinta
Lebih fasih melafal angkara
Pantaslah kita tak pernah bisa bicara
Walau pernah bersumpah berbahasa sama
Berbeda-beda tetap beda
Ujung timur tebet, 17 Oktober 2019
Sepertinya
Sukar betul buat kau memahami aku
Kiranya memang kau tak bisa pasti
Bagaimana mungkin akan mampu
Kau tak pernah berdiri disini
Di atas kakiku,
berjalan dengannya,
Memandang dengan mataku,
Mendengar dengan telingaku.
Begitu pula aku
Kakiku terlalu besar untuk berjalan dengan sepatumu
Mata rabunku tak mampu memandang jauh sebagaimanamu
Telingaku tak berselera mendengar lagu kesukaanmu
Lalu
Bagaimana aku akan memahamimu
Katanya kita
Punya bahasa yang sama
Tumpah dari tanah dan air yang sama
Merapal mantra yang sama
Bahwa kita berbeda tapi satu jua
Tapi ternyata kita
Masih saja sulit berbicara tanpa melibat cerca
Tak rela berbagi tanah dan air dengan jumlah yang setara
Menyimpan ragu kalau aku, kamu, bisa menjadi satu
Di meja kopi
Kita bicara toleransi
Berdiskusi
Berbeda pendapat
Bersepakat saling menghormati
Tangan kanan berjabat erat
Di belakang punggung tangan kiri menggenggam belati
Kuat menggigit jari
Menahan sakit di hati
Karena kita masih punya nafsu saling mengangkangi
Maka setelah kopi
Kita akan bertarung lagi
Sembunyi-sembunyi
Sepertinya
Kita memang akan terus berkelahi
Sepertinya
Sukar betul buat kau memahami aku
Kiranya memang kau tak bisa pasti
Bagaimana mungkin akan mampu
Kau tak pernah berdiri disini
Di atas kakiku,
berjalan dengannya,
Memandang dengan mataku,
Mendengar dengan telingaku.
Begitu pula aku
Kakiku terlalu besar untuk berjalan dengan sepatumu
Mata rabunku tak mampu memandang jauh sebagaimanamu
Telingaku tak berselera mendengar lagu kesukaanmu
Lalu
Bagaimana aku akan memahamimu
Katanya kita
Punya bahasa yang sama
Tumpah dari tanah dan air yang sama
Merapal mantra yang sama
Bahwa kita berbeda tapi satu jua
Tapi ternyata kita
Masih saja sulit berbicara tanpa melibat cerca
Tak rela berbagi tanah dan air dengan jumlah yang setara
Menyimpan ragu kalau aku, kamu, bisa menjadi satu
Di meja kopi
Kita bicara toleransi
Berdiskusi
Berbeda pendapat
Bersepakat saling menghormati
Tangan kanan berjabat erat
Di belakang punggung tangan kiri menggenggam belati
Kuat menggigit jari
Menahan sakit di hati
Karena kita masih punya nafsu saling mengangkangi
Maka setelah kopi
Kita akan bertarung lagi
Sembunyi-sembunyi
Sepertinya
Kita memang akan terus berkelahi
Menulis takut
Ujung timur tebet, 7 Oktober 2019
Gemetar tangan mencengkeram pena
Dalam hening yang berisik
dari gelisah yang menggelegak
Berontak,
menanti untuk meledak
Menyeruak saat ujung pena mulai bergerak
Membuat jejak dari emosi yang berserak
Di atas secarik kertas yang terkoyak
Huruf-huruf kecil berdempet berbaris berderap
Kata-kata berdegap
Mengungkap rasa yang terperangkap
Dalam jiwa yang pengap
Dalam hati yang gagap mengucap harap
Tapi kini gelap siap tersingkap
Ketika semua akan terungkap
Lengkap
Melalui bait-bait sajak pengakuan
Soal semua ketakutan-ketakutan
Atas sepi dan kesendirian,
ramai dan keterasingan,
sakit dan kematian,
hidup dan kesia-siaan,
awal dan penderitaan,
akhir dan kegagalan,
Pada matahari, bulan dan awan,
gunung, laut dan hutan,
jin, setan dan preman,
Pada dia dan kekalahan,
Pada kau dan kehilangan,
Pada semua yang tiada terkatakan
Dan saat semua telah tertumpahkan
Saat pena telah diletakkan
Aku si penakut akan
Tersenyum penuh kebanggaan
Gemetar tangan mencengkeram pena
Dalam hening yang berisik
dari gelisah yang menggelegak
Berontak,
menanti untuk meledak
Menyeruak saat ujung pena mulai bergerak
Membuat jejak dari emosi yang berserak
Di atas secarik kertas yang terkoyak
Huruf-huruf kecil berdempet berbaris berderap
Kata-kata berdegap
Mengungkap rasa yang terperangkap
Dalam jiwa yang pengap
Dalam hati yang gagap mengucap harap
Tapi kini gelap siap tersingkap
Ketika semua akan terungkap
Lengkap
Melalui bait-bait sajak pengakuan
Soal semua ketakutan-ketakutan
Atas sepi dan kesendirian,
ramai dan keterasingan,
sakit dan kematian,
hidup dan kesia-siaan,
awal dan penderitaan,
akhir dan kegagalan,
Pada matahari, bulan dan awan,
gunung, laut dan hutan,
jin, setan dan preman,
Pada dia dan kekalahan,
Pada kau dan kehilangan,
Pada semua yang tiada terkatakan
Dan saat semua telah tertumpahkan
Saat pena telah diletakkan
Aku si penakut akan
Tersenyum penuh kebanggaan
Jari Menari
Ujung timur tebet, 30 September 2019
Jarinya menari tanpa henti
Kecuali sekejap jeda pada koma
Diiring senandung riang dua tanda tanya
Gemulai marangkai kata
Cepat
Lincah Melompat di antara kalimat
Perlahan
Barhati-hati meniti tiap spasi
Tegas keras
Memburu di setiap tanda seru
Koreografi merangsang imajinasi
Menjadi samar fakta dalam ilusi
Naratif, desktiptif, fiktif
Juga mungkin manipulatif
Kadang liar lagi vulgar
Aku yang menonton menjadi pengamat
hanyut dalam nikmat
Dari babak ke babak
Episode ke episode
Panggung ke panggung
Bertepuk dan bersorak
Mulut terbuka menganga
Kagum dalam tanya
Tak disangka
Kenapa semua tiba-tiba
Jadi pandai menari
Jarinya menari tanpa henti
Kecuali sekejap jeda pada koma
Diiring senandung riang dua tanda tanya
Gemulai marangkai kata
Cepat
Lincah Melompat di antara kalimat
Perlahan
Barhati-hati meniti tiap spasi
Tegas keras
Memburu di setiap tanda seru
Koreografi merangsang imajinasi
Menjadi samar fakta dalam ilusi
Naratif, desktiptif, fiktif
Juga mungkin manipulatif
Kadang liar lagi vulgar
Aku yang menonton menjadi pengamat
hanyut dalam nikmat
Dari babak ke babak
Episode ke episode
Panggung ke panggung
Bertepuk dan bersorak
Mulut terbuka menganga
Kagum dalam tanya
Tak disangka
Kenapa semua tiba-tiba
Jadi pandai menari
Semangat Pagi
Ujung timur tebet, 25 September 2019
Bangunlah
Tak perlu marah
Bersegeralah
Singkirkan selimut yang menutup badan
Dan biarkan
angin pagi membawa dingin menusuk tulang,
mendudukkanmu di tepi ranjang
Lawanlah kantuk di kelopak mata
Dengan kepal tangan meninju angkasa
Biar sejuk embun membasuh muka
Mengusir malas tak bersisa
Menumbuh semangat menggapai cita
Berangkatlah ke sekolah
Kutunggu disini sore nanti
Bercerita tentang angka, warna dan gembira
Hormati gurumu selalu
Dengan berbuat salah,
Karena ilmu datang setelah salah
Dengan tanya,
Karena tahu hadir setelah tanya
Dengan tetap merasa bodoh,
Karena belajar ada ketika bodoh
Sayangi temanmu
Lebih dahulu,
Sebelum mengharapnya untukmu
Ringan ulurkan tangan
Jabat erat hangat
Memilih tanpa pilih kasih
Siapa pantas jadi kawan
Tak usah khawatir sendirian
Tetap tegak berpendirian
Jangan hirau caci bibir mencibir
Juga cerca dan makian
Jadilah selalu murid budiman
Catatan hati sepasang kaki
Ujung timur tebet, 19 September 2019
Pagi ini
Bangun manduhului mentari
Ada bara menyala
Pada dada yang lama sempit sesak
Kini mendesak berteriak
Suara tak bersuara tak mungkin dielak
Di depan gerbang terhenti
Bertanya kaki
Mau kemana kini
Melangkahlah sesuka hati
Tak ada yang akan menahan berlari
Tidak menit tidak pula hari
Tidak juga kereta api
Yang melewatkanku berkali-kali
Akan ku kejar dia nanti
Pikirku diatas bis reot sepi penghuni
Yang kubayar sesuka hati
Berhenti menepi pada jantung kota
Bersama jutaan manusia
Mengalir dan mengular di atas trotoar
Terburu-buru, tetapi tidak aku
Kunikmati secara perlahan
Semua yang kota sajikan
Salak klakson dan cacian bersahutan
Asap knalpot yang memuakkan
Aroma wangi yang memabukkan
Menyeruak dari jasad para pengabdi
Kuhirup sesuka hati
Matahari beranjak tinggi
Angkuh di pucuk dunia
Tak kuasa ku menentangnya kini
Parau suara muadzin tua
Terdengar samar menerus pesan dari yang maha akbar
Memanggil hati yang renjana
Dari mushola kecil yang jauh dari megah,
meringkuk di bawah kaki gedung-gedung yang menjulang gagah
Lantai yang pecah, karpet lusuh dan basah
Jendela, pintu yang tak lagi utuh dan tiang-tiang lelah penyangga atap yang mulai goyah
Terasa indah dalam khusyuknya doa dan ibadah
Ku adukan semua keluh, kesah dan resah
Ku biarkan air mata tertumpah
Menangis sesuka hati
Malam telah menjelang
Saatnya kembali pulang
Kota tertinggal di belakang
Biarlah, karena ia akan tetap disana saat esok datang menyapa
Selalu sama
Begitulah sedari lama
Tidak ada yang berbeda
Dan tak akan pernah berbeda
Tetapi rasa
Tidak akan pernah lagi sama
Semenjak hati merebut takhta
Menyalakan bara dalam dada
Sesuka hati ia berkuasa
Pagi ini
Bangun manduhului mentari
Ada bara menyala
Pada dada yang lama sempit sesak
Kini mendesak berteriak
Suara tak bersuara tak mungkin dielak
Di depan gerbang terhenti
Bertanya kaki
Mau kemana kini
Melangkahlah sesuka hati
Tak ada yang akan menahan berlari
Tidak menit tidak pula hari
Tidak juga kereta api
Yang melewatkanku berkali-kali
Akan ku kejar dia nanti
Pikirku diatas bis reot sepi penghuni
Yang kubayar sesuka hati
Berhenti menepi pada jantung kota
Bersama jutaan manusia
Mengalir dan mengular di atas trotoar
Terburu-buru, tetapi tidak aku
Kunikmati secara perlahan
Semua yang kota sajikan
Salak klakson dan cacian bersahutan
Asap knalpot yang memuakkan
Aroma wangi yang memabukkan
Menyeruak dari jasad para pengabdi
Kuhirup sesuka hati
Matahari beranjak tinggi
Angkuh di pucuk dunia
Tak kuasa ku menentangnya kini
Parau suara muadzin tua
Terdengar samar menerus pesan dari yang maha akbar
Memanggil hati yang renjana
Dari mushola kecil yang jauh dari megah,
meringkuk di bawah kaki gedung-gedung yang menjulang gagah
Lantai yang pecah, karpet lusuh dan basah
Jendela, pintu yang tak lagi utuh dan tiang-tiang lelah penyangga atap yang mulai goyah
Terasa indah dalam khusyuknya doa dan ibadah
Ku adukan semua keluh, kesah dan resah
Ku biarkan air mata tertumpah
Menangis sesuka hati
Malam telah menjelang
Saatnya kembali pulang
Kota tertinggal di belakang
Biarlah, karena ia akan tetap disana saat esok datang menyapa
Selalu sama
Begitulah sedari lama
Tidak ada yang berbeda
Dan tak akan pernah berbeda
Tetapi rasa
Tidak akan pernah lagi sama
Semenjak hati merebut takhta
Menyalakan bara dalam dada
Sesuka hati ia berkuasa
Langganan:
Postingan (Atom)

