Menang


Ujung timur tebet, 13 Maret 2022

Kenapa harus marah padahal aku tidak keberatan mengalah. Tidak perlu merasa resah apalagi gelisah, biarlah aku yang menanggung semua salah. Jangan khawatir tak mendapat tempat, akan kusiapkan satu untukmu yang paling terhormat. Meski bukan pujian yang kau harap, bukan pula sanjung setinggi langit, biarlah kurendahkan juga aku agar kau nampak tetap menjulang. Jika belum cukup, maka ini kusiapkan pundakku untukmu berpijak. Naiklah agar semakin tinggi kau terlihat. Majulah dengan gagah, akan ku dorong kau dari belakang setelah ku lapangkan jalan di hadapan. Tak usah sebut namaku ketika mereka menjabat tanganmu sambil mengucapkan selamat. Biar namamu saja menggema seantero jagat. Segala puja dan puji mereka ambilah semua untukmu. Sungguh aku tak perlu. Aku tak punya lagi keinginan. Aku tak ada lagi ambisi. Tapi bukan aku tak punya mimpi. Hanya saja pertandinganmu tak menarik buatku. Juaramu tak berarti bagiku. Pialamu tak berharga untukku. Tapi bagiku, aku sudah menang. 



Video diambil dari youtube (rayakan pemenang - morfem) 

Bayangkan


Ujung timur tebet, 27 Februari 2022


Lennon, kawan kecilku, pernah menyuruhku membayangkan apa jadinya kalau-kalau dunia tidak pernah kenal surga dan agama, tidak ada negara, dan manusia tidak punya nafsu menguasai. Katanya dunia akan jadi damai sebab tidak ada sesuatu untuk dipertengkarkan dan jadi alasan untuk saling bunuh. Katanya lagi, umat dunia akan dapat hidup berdampingan dalam dunia yang satu.

Dulu, aku tak pernah benar-benar membayangkan apa yang dia bilang. Mencoba saja tidak. Walaupun katanya itu bukan hal yang susah-susah amat. Mungkin aku masih terlalu kecil untuk memahami apa yang dia maksud. Mungkin juga karena dulu aku tidak bisa bahasa inggris. Jadilah bagiku apa yang diutarakan Lennon hanya sebuah alunan nada yang kunikmati sambil tidur-tiduran di ruang tengah. 

Namun, akhir-akhir ini mimpi kawan masa kecilku ini kembali mengalun dan menggema di ruang kepala. Kini aku bukan hanya sekedar mendengar alunan nada yang nikmat, tapi juga mulai dapat merasakan keresahannya. Resah yang sama yang mungkin menjadi hal ihwal ditulisnya lagu itu. Resah yang kini memudahkan ku untuk membayangkan sederet kalimat yang dulu aku tidak pahami itu. 

Kini aku bisa paham kenapa ketiadaan surga, agama, negara, dan kekuasaan menjadi syarat dari dunia yang lebih baik dalam imajinasi Lennon. Keempat hal ini selalu dijadikan alasan dan pembenaran atas kegaduhan di muka bumi. Walaupun bisa jadi yang salah bukan keempat hal tadi, tapi manusia sebagai pelakunyalah yang salah. Namun, mungkin saking sebalnya, dia langsung ambil singkatnya saja. Toh tidak mungkin membayangkan dunia tanpa manusia. Dan mebayangkan manusia mengekang hawa nafsunya sepertinya mustahil. Jadi lebih baik objeknya saja yang ditiadakan.

Sepertinya sekarang semua menjadi lebih relevan buatku. Terlebih dengan rasa muak ku pada politik di negeri ini. Mungkin itu sebabnya pula aku berandai negeri ini hari ini tidak ada yang namanya politik. Biang dari kekisruhan yang terjadi, hari ini, di negeri ini. Tentu bukan politiknya yang salah, tapi pelakunya yang salah pakai. Tapi sama seperti kesimpulan dari mimpi Lennon, sepertinya lebih simpel kalau politiknya saja yang dihilangkan. 

Tanpa politik sepertinya kita bisa menikmati hubungan yang akrab antar sesama dilandaskan ketulusan bukan karena keinginan mempengaruhi satu sama lain demi suara dalam bilik pemilu. Tanpa politik mungkin tidak ada energi yang terbuang percuma mencari cela dari kerja orang lain karena kita semua akan sibuk dengan karya. Tanpa politik mungkin tidak ada keributan dunia maya yang terdengar bising hingga ke dunia nyata. Tanpa politik tidak perlu risau soal statistik dukung mendukung yang entah benar entah tidak.

Dan tanpa politik bisa jadi tidak ada korupsi. Karena politik perlu biaya, maka uang dan politik seperti sahabat setia. Karena politik bisa jadi mata pencaharian, maka politik dan uang tidak dapat dipisahkan. Ini sepertinya berlaku pada tiap tingkat politik, baik tingkat tinggi maupun tingkat kampung. Jadi wajarkan kalo politik adalah tanah tempat korupsi tumbuh? Dan kalau tanahnya tidak ada maka tidak akan ada yang tumbuh. 

Maka coba bayangkan kalau politik tidak ada.  Kau mungkin bilang aku pemimpi tapi mungkin aku bukan satu-satunya. 



Video diambil dari youtube (imagine - john lennon?) 

Nasihat raja laut


Ujung timur tebet, 24 Januari 2022

Andai Tuhan bisa selalu jadi alasan. Pasti hidup akan terasa ringan dan menyenangkan. Karena kita tidak akan pernah merasa sendirian, ada atau tiadanya teman dalam memikul beban. Tidak merasa kesepian dalam menempuh hiruk pikuk jalan kehidupan. Tidak pernah terbawa perasaan, saat bergelimang pujian atau saat cacian datang menghantam. Tidak larut dalam kekecewaan penuh kesedihan. Tidak pula silau dengan gemerlap keberhasilan dan kebahagiaan. 

Andai Tuhan selalu menjadi ukuran. Maka apa peduli kita dengan penilaian manusia. Apa peduli kita tentang apa yang mereka bilang. Apa peduli kita dengan ukuran dunia yang profan. Apa pentingnya menampilkan diri. Apa gunanya habis-habisan mencari perhatian. Apa gunanya meninggikan diri sambil merendahkan yang lain. Apa manfaatnya pamer prestasi atau  murung karena tak dapat apresiasi. Toh kita yakin Tuhan maha melihat dan seadil-adilnya pemberi balasan. 

Andai Tuhan selalu menjadi tujuan. Tentu kita tak akan pernah kehilangan arah. Kita tak akan pernah berhenti berjalan. Bukankah pertemuan denganNya ada di akhir kehidupan. Segalanya adalah persembahan wujud penghambaan. Maka apa arti dunia selain sekedar persinggahan menuju kehidupan yang lebih kekal kelak. 

Ah, tapi ternyata bagiku dunia jauh lebih menggiurkan untuk  dijadikan alasan, tujuan dan ukuran. Hingga usia habis untuk mengejarnya. Bersolek mencuri perhatiannya. Bertengkar dan berkelahi memperebutkannya. Kecewa karena tak sepenuhnya berhasil merengkuhnya. Sesekali membusung dada atas secuil keberuntungan yang menghampiri. 

Ah, semoga Tuhan mengampuni. 



Video dari youtube (nothing else matters - metallica) 

Sepotong tahi




Ujung timur tebet, 22 Januari 2022


Kaki-kaki takdir mengayuh pedal kuat-kuat. Memutar roda menggilir nasib naik dan turun. Cuma soal waktu semua berganti tempat. Kita hanya sepotong tahi yang terinjak menempel dibawa naik dan turun. Sebelum akhirnya tercecer tertinggal zaman.   

Jika takdir membawa kita naik sejatinya itu hanya kebetulan. Lalu apa gunanya congkak sambil terbahak mencela yang di bawah. Sebentar pasti naik berganti posisi. Toh sehebat apapun tahi tetap saja tahi. Maka jadilah sebaik-baiknya tahi dengan bersyukur dan rendah hati. 

Jika takdir menempatkan kita di bawah itu tentu juga kebetulan. Jadi tak ada gunanya mengumpat dan iri pada yang di atas. Sebentar mungkin akan turun juga. Lagipula apa ada tempat yang lebih pantas dari sepotong tahi selain terhimpit di bawah. Maka jadilah sebaik-baik tahi dengan sabar sambil menahan dengki. 

Kita hanya sepotong tahi terbawa menempel pada roda nasib dikayuh takdir naik dan turun. Hanya soal waktu kita berganti tempat. Cepat atau lambat. Tapi tahi tetap saja tahi. Tak ada yang lebih baik satu dari yang lain. 




Video diambil dari youtube (kosong - pure saturday) 

Asing


Ujung timur tebet, 26 November 2021


Semua terdengar jelas di telinga. Tiap kalimat, kata, hurufnya. Riuh ramai. Berdengung di dalam tempurung kepala. Aku pejamkan mata erat dan kuat. Mencoba memahami apa yang terucap. Tapi tidak juga aku dapat. Apa memang tidak punya makna. Atau aku bicara bahasa berbeda. Atau ternyata aku tak ada isi kepala. Hanya bising tersisa menggema di liang telinga. Menyiksa. Ku coba untuk bertahan. Dengan seulas senyuman. Melawan perih di sekujur badan. Terpaksa. Waktu satu-satunya kawan. Kini berkhianat. Berjalan begitu lambat. Terkekeh melihatku terseret dalam babak demi babak. Memain lakon yang terpaksa aku perankan. Entah karena apa aku rela berpura-pura. Menelan canggung setelah mengunyahnya perlahan. Pasti karena riuh tepuk tangan. Rangkaian pujian di akhir pertunjukan. Diam-diam kunikmati juga. Semuanya. Sesaat sebelum akhirnya layar turun. Menyembunyikan ku membungkuk di tengah panggung. Sendiri dalam bingung. Bertanya-tanya tentang aku. Tak tahu siapa sejatinya aku. Selain seperti yang mereka mau. 



Video dari youtube (englishman in newyork - Sting) 

Opini gembel: Apa arti sebuah nama?


Ujung timur tebet, 17 November 2021


Apalah arti sebuah nama. Begitu katanya. Tapi begitukah adanya? Mari bayangkan dunia tanpa nama. Bayangkan bagaimana kita akan saling menyapa. Bagaimana aku akan memanggilmu. Bagaimana aku akan mengingatmu. Bagaimana aku akan menghantarmu tidur sedang dongeng bertabur nama-nama. Bagaimana hikmah akan disampaikan padahal orang-orang bijaksana dikenal dengan sebutan nama. 


Kalaulah nama tidak begitu penting, tidaklah Tuhan mengajarkan nama-nama kepada Adam sesaat setelah dia diciptakan.  Nama-nama menjadi sebab ia berkedudukan mulia dibanding makhlukNya yang lain. Dari nama kemudian ilmu lahir dan dari ilmu dewasalah akal pikiran. Dengan akal pikiran manusia menuai kemuliaan. Tanpa nama manusia akan kehilangan kemuliaannya. 


Nama sejatinya adalah representasi sederhana dari sebuah substansi. Nama didefinisikan dengan makna. Nama merujuk pada bentuk, sifat, rasa, aroma, fungsi dan karakter-karakter lainnya.  Nama mengumpul persepsi dan membangkitkan imaji. Tentang apa dan tentang siapa. Demikianlah nama memiliki arti karena substansi. Tanpa substansi nama tidak lagi penting. 


Sepanjang zaman nama-nama muncul hilang silih berganti. Era yang disruptif kini menghadirkan realita-realita baru, perspektif baru dan persepsi yang baru pula. Memunculkan nama-nama baru. Memaksa nama-nama lama mencari definisi yang baru pula. Nama-nama lama yang tak dapat didefinisikan ulang terpaksa mengalah pada zaman, hilang terlupakan. Kehilangan relevansi karena tak punya substansi, makna dan arti. Yang kebetulan mendapatkan makna baru, dapat melanjutkan perannya dalam kehidupan sesuai dengan pemaknaan barunya. Suka atau tidak. 


Hari ini penting bagi kita kembali belajar tentang nama-nama agar memperoleh kemuliaan, sebagaimana Adam belajar dan mendapatkan kemuliannya saat ia diciptakan. Kita perlu mengidentifikasi nama-nama atas realitas baru yang sebelumnya tidak pernah ada. Kita perlu mereka ulang nama-nama lama dengan konteks hari ini agar memperoleh makna dan arti yang relevan. Dengan begitu dapat diraihlah ilmu mutakhir untuk menghadapi zaman yang telah berubah. Jika tidak, mungkin kita pun akan hilang menjadi kenangan bahkan sama sekali terlupakan. 


Di industri perbankan, tempat kita mencari makan, sepertinya mendefinisikan ulang nama-nama juga menjadi penting. Era 4.0, demikian katanya (tidak paham juga yang mana 1.0, 2.0 dan 3.0), mengguncang tatanan lama, menggeser pemahaman kuno dan memunculkan istilah-istilah baru dalam industri. Menyajikan pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan jawaban untuk merekonstruksi wajah industri. Bagaimana kita mendefinisikan bank diantara lembaga keuangan lain kalau peran serupa intermediari bukan lagi monopoli bank? Bagaimana kita mendefinisikan deposito kontra tabungan kalau soal waktu penempatan dan pencairan bukan lagi jadi persoalan? Bagaimana kita mendefinisikan bank syariah dihadapkan pada sosial investment atau ethic investment dimana keduanya juga menampilkan dampak sosial dan keadilan? Lalu bagaimana juga kita akan mendefinisikan BPR atau BPRS? Padahal rakyat sudah lama tidak lagi menjadi pasar milik mereka sendiri. Bagaimana kita mendefinisikan kata-kata asing lain yang belum pernah kita dengar sebelumnya: fintech, p2p, neobank, pinjol? 


Pertanyaan-pertanyaan ini penting dijawab agar jelas semua definisi yang diperlukan bagi tiap nama yang terlibat dalam industri. Karena atas jawaban-jawaban tersebut kemudian peraturan dibuat, produk-produk diciptakan, strategi diracik dan wajah industri dikreasikan. Bayangkan apa yang terjadi jika kita gagal melakukannya. Peraturan macam apa yang dihasilkan dari objek aturan yang memiliki konteks yang tidak lagi relevan. Tidak akan ada inovasi produk jika tetap tersandera pada definisi lama yang ketinggalan zaman. Strategi pun akan menyesatkan jika diracik dari pemahaman yang keliru. Jika begini, industri macam apa yang akan diciptakan. 


Terakhir, di antara pertanyaan-pertanyaan tadi, diujungnya kita perlu juga bertanya tentang kita. Ya, kita. Kita, pelaku industri, apapun jenis, posisi, fungsi dan jabatan perlu juga memaknai ulang nama kita. Memaknai siapa kita, apa sebab kita ada dan bagaimana kita menjadi relevan di era ke empat ini. Kita perlu melakukannya bukan semata untuk menjaga eksistensi dan menghindari kepunahan. Tapi agar kita tetap dapat dengan banggga memperkenalkan diri. Agar harumnya tetap semerbak walaupun hayat tak lagi dikandung badan. 


Oh, maaf sampai lupa. Perkenalkan saya... 




Video dari youtube (where the streets have no name - U2) 


Langit

 


Ujung timur tebet, 31 Oktober 2021

Ingin ku bertanya pada matahari pernahkah merasa kesal dengan bulan karena harus berbagi waktu menerangi bumi. Pernahkah ia terpikir bukan hanya menjadi raja siang tapi juga malam. Pernahkah ingin sekedar bertahta lebih lama dan enggan pergi tenggelam. Apakah ia bertanya-tanya kenapa pula harus mengalah kala senja tiba. Bukankah ia jauh lebih besar dan lebih terang dari si juwita malam. 

Ingin juga aku bertanya pada bulan. Pernahkah kesal pada gemintang karena harus berbagi langit malam. Pernahkah terpikir untuk mengusir mereka pergi. Pernahkah meminta awan menjadi pekat dan menghalangi para bintang tak terlihat. Pernahkah merasa bahwa hanya ia yang pantas menjadi penghias malam. Agar semua puisi cinta hanya menulis dirinya. 

Lalu kepada bintang-bintang yang bertebaran tak berbilang. Ingin pula aku bertanya. Apakah mereka hidup rukun antar sesama. Apakah mereka bertengkar satu sama lain, berkelahi, bersaing dan bersikutan. Berebut mencari dan menjadi perhatian. Apa sebab mereka berkerumun berkelompok dalam rasi zodiak. Apakah sedang menggalang kekuatan. Untuk saling menjatuhkan dalam arena perang bintang. 

Mungkin akhirnya aku harus bertanya pada langit. Tempat bernaung semuanya. Pernahkah ia mendengar matahari, bulan, bintang bertengkar. Apakah pernah mereka mengadu padanya panjang lebar. Apakah mereka saling membanggakan kehebatan masing-masing sambil merendahkan yang lainnya. Apakah nasihat yang ia berikan kepada ketiganya, dengan keluasan dan ketenangannya, atau dengan gemuruh dan menggelegar justru membentak menyuruh mereka diam. 

Ah, rasanya aku juga ingin menyuruh mereka semua diam. 

Diam!!!




Video: dere - berisik (diambil dari youtube)