Semua terdengar jelas di telinga. Tiap kalimat, kata, hurufnya. Riuh ramai. Berdengung di dalam tempurung kepala. Aku pejamkan mata erat dan kuat. Mencoba memahami apa yang terucap. Tapi tidak juga aku dapat. Apa memang tidak punya makna. Atau aku bicara bahasa berbeda. Atau ternyata aku tak ada isi kepala. Hanya bising tersisa menggema di liang telinga. Menyiksa. Ku coba untuk bertahan. Dengan seulas senyuman. Melawan perih di sekujur badan. Terpaksa. Waktu satu-satunya kawan. Kini berkhianat. Berjalan begitu lambat. Terkekeh melihatku terseret dalam babak demi babak. Memain lakon yang terpaksa aku perankan. Entah karena apa aku rela berpura-pura. Menelan canggung setelah mengunyahnya perlahan. Pasti karena riuh tepuk tangan. Rangkaian pujian di akhir pertunjukan. Diam-diam kunikmati juga. Semuanya. Sesaat sebelum akhirnya layar turun. Menyembunyikan ku membungkuk di tengah panggung. Sendiri dalam bingung. Bertanya-tanya tentang aku. Tak tahu siapa sejatinya aku. Selain seperti yang mereka mau.
Video dari youtube (englishman in newyork - Sting)
Apalah arti sebuah nama. Begitu katanya. Tapi begitukah adanya? Mari bayangkan dunia tanpa nama. Bayangkan bagaimana kita akan saling menyapa. Bagaimana aku akan memanggilmu. Bagaimana aku akan mengingatmu. Bagaimana aku akan menghantarmu tidur sedang dongeng bertabur nama-nama. Bagaimana hikmah akan disampaikan padahal orang-orang bijaksana dikenal dengan sebutan nama.
Kalaulah nama tidak begitu penting, tidaklah Tuhan mengajarkan nama-nama kepada Adam sesaat setelah dia diciptakan. Nama-nama menjadi sebab ia berkedudukan mulia dibanding makhlukNya yang lain. Dari nama kemudian ilmu lahir dan dari ilmu dewasalah akal pikiran. Dengan akal pikiran manusia menuai kemuliaan. Tanpa nama manusia akan kehilangan kemuliaannya.
Nama sejatinya adalah representasi sederhana dari sebuah substansi. Nama didefinisikan dengan makna. Nama merujuk pada bentuk, sifat, rasa, aroma, fungsi dan karakter-karakter lainnya. Nama mengumpul persepsi dan membangkitkan imaji. Tentang apa dan tentang siapa. Demikianlah nama memiliki arti karena substansi. Tanpa substansi nama tidak lagi penting.
Sepanjang zaman nama-nama muncul hilang silih berganti. Era yang disruptif kini menghadirkan realita-realita baru, perspektif baru dan persepsi yang baru pula. Memunculkan nama-nama baru. Memaksa nama-nama lama mencari definisi yang baru pula. Nama-nama lama yang tak dapat didefinisikan ulang terpaksa mengalah pada zaman, hilang terlupakan. Kehilangan relevansi karena tak punya substansi, makna dan arti. Yang kebetulan mendapatkan makna baru, dapat melanjutkan perannya dalam kehidupan sesuai dengan pemaknaan barunya. Suka atau tidak.
Hari ini penting bagi kita kembali belajar tentang nama-nama agar memperoleh kemuliaan, sebagaimana Adam belajar dan mendapatkan kemuliannya saat ia diciptakan. Kita perlu mengidentifikasi nama-nama atas realitas baru yang sebelumnya tidak pernah ada. Kita perlu mereka ulang nama-nama lama dengan konteks hari ini agar memperoleh makna dan arti yang relevan. Dengan begitu dapat diraihlah ilmu mutakhir untuk menghadapi zaman yang telah berubah. Jika tidak, mungkin kita pun akan hilang menjadi kenangan bahkan sama sekali terlupakan.
Di industri perbankan, tempat kita mencari makan, sepertinya mendefinisikan ulang nama-nama juga menjadi penting. Era 4.0, demikian katanya (tidak paham juga yang mana 1.0, 2.0 dan 3.0), mengguncang tatanan lama, menggeser pemahaman kuno dan memunculkan istilah-istilah baru dalam industri. Menyajikan pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan jawaban untuk merekonstruksi wajah industri. Bagaimana kita mendefinisikan bank diantara lembaga keuangan lain kalau peran serupa intermediari bukan lagi monopoli bank? Bagaimana kita mendefinisikan deposito kontra tabungan kalau soal waktu penempatan dan pencairan bukan lagi jadi persoalan? Bagaimana kita mendefinisikan bank syariah dihadapkan pada sosial investment atau ethic investment dimana keduanya juga menampilkan dampak sosial dan keadilan? Lalu bagaimana juga kita akan mendefinisikan BPR atau BPRS? Padahal rakyat sudah lama tidak lagi menjadi pasar milik mereka sendiri. Bagaimana kita mendefinisikan kata-kata asing lain yang belum pernah kita dengar sebelumnya: fintech, p2p, neobank, pinjol?
Pertanyaan-pertanyaan ini penting dijawab agar jelas semua definisi yang diperlukan bagi tiap nama yang terlibat dalam industri. Karena atas jawaban-jawaban tersebut kemudian peraturan dibuat, produk-produk diciptakan, strategi diracik dan wajah industri dikreasikan. Bayangkan apa yang terjadi jika kita gagal melakukannya. Peraturan macam apa yang dihasilkan dari objek aturan yang memiliki konteks yang tidak lagi relevan. Tidak akan ada inovasi produk jika tetap tersandera pada definisi lama yang ketinggalan zaman. Strategi pun akan menyesatkan jika diracik dari pemahaman yang keliru. Jika begini, industri macam apa yang akan diciptakan.
Terakhir, di antara pertanyaan-pertanyaan tadi, diujungnya kita perlu juga bertanya tentang kita. Ya, kita. Kita, pelaku industri, apapun jenis, posisi, fungsi dan jabatan perlu juga memaknai ulang nama kita. Memaknai siapa kita, apa sebab kita ada dan bagaimana kita menjadi relevan di era ke empat ini. Kita perlu melakukannya bukan semata untuk menjaga eksistensi dan menghindari kepunahan. Tapi agar kita tetap dapat dengan banggga memperkenalkan diri. Agar harumnya tetap semerbak walaupun hayat tak lagi dikandung badan.
Oh, maaf sampai lupa. Perkenalkan saya...
Video dari youtube (where the streets have no name - U2)
Ingin ku bertanya pada matahari pernahkah merasa kesal dengan bulan karena harus berbagi waktu menerangi bumi. Pernahkah ia terpikir bukan hanya menjadi raja siang tapi juga malam. Pernahkah ingin sekedar bertahta lebih lama dan enggan pergi tenggelam. Apakah ia bertanya-tanya kenapa pula harus mengalah kala senja tiba. Bukankah ia jauh lebih besar dan lebih terang dari si juwita malam.
Ingin juga aku bertanya pada bulan. Pernahkah kesal pada gemintang karena harus berbagi langit malam. Pernahkah terpikir untuk mengusir mereka pergi. Pernahkah meminta awan menjadi pekat dan menghalangi para bintang tak terlihat. Pernahkah merasa bahwa hanya ia yang pantas menjadi penghias malam. Agar semua puisi cinta hanya menulis dirinya.
Lalu kepada bintang-bintang yang bertebaran tak berbilang. Ingin pula aku bertanya. Apakah mereka hidup rukun antar sesama. Apakah mereka bertengkar satu sama lain, berkelahi, bersaing dan bersikutan. Berebut mencari dan menjadi perhatian. Apa sebab mereka berkerumun berkelompok dalam rasi zodiak. Apakah sedang menggalang kekuatan. Untuk saling menjatuhkan dalam arena perang bintang.
Mungkin akhirnya aku harus bertanya pada langit. Tempat bernaung semuanya. Pernahkah ia mendengar matahari, bulan, bintang bertengkar. Apakah pernah mereka mengadu padanya panjang lebar. Apakah mereka saling membanggakan kehebatan masing-masing sambil merendahkan yang lainnya. Apakah nasihat yang ia berikan kepada ketiganya, dengan keluasan dan ketenangannya, atau dengan gemuruh dan menggelegar justru membentak menyuruh mereka diam.
Ah, rasanya aku juga ingin menyuruh mereka semua diam.
Ada orang yang enggan bicara namun terpaksa juga banyak bicara. Kata-katanya bernas, lugas. Menyejukkan dan menenangkan. Menyenangkan. Tidak berlebihan. Tulus terdengar di telinga hati. Pada orang semacam ini aku menaruh kagum. Atas ketinggian budi dan kerendahan hati.
Ada orang yang senang bicara tanpa perlu dipaksa. Bicaranya banyak. Ramai orang datang padanya. Tanyalah dia soal apa saja niscaya panjang lebar dia terangkan. Mintalah pendapat tentang soalan hidup niscaya bijaksana dia nasihati. Pada orang seperti ini akupun menaruh kagum. Atas keluasan wawasan dan pengetahuan.
Ada orang yang senang lagi pandai bicara. Bicaranya manis. Kalimat-kalimatnya bersayap. Dihiasi bunga-bunga kata. Terkagum-kagum dibuatnya. Laki maupun perempuan. Tua lagi muda. Semua senang mendengarnya. Pada orang ini aku kagum atas keluwesannya bergaul dan kepandaiannya merangkai kata.
Ada pula orang yang senang berbicara sekedar bicara. "Bicara maka aku ada", begitu pula pikirnya. Baginya bicara adalah soal menampilkan diri. Bicara adalah etalase. Tempat diri dipamerkan. Capaian-capaian membanggakan. Pada orang ini aku pula menaruh kagum, atas kepercayaan diri yang luar biasa.
Sedang aku memang jarang bicara. Walaupun kadang terpaksa juga. Namun bukan karena ketinggian budi pekerti atau kerendahan hati. Tapi lebih karena kedangkalan wawasan dan pengetahuan. Karena tidak pula pandai bergaul dan merangkai kata. Karena memang tidak ada yang patut dibanggakan.
Oleh sebab itu, aku terpaksa percaya bahwa diam itu emas.
Video dari youtube (enjoy the silence - depeche mode)