Kembali Lagi

Ujung timur tebet, 24 Mei 2020

Hari ini dia pergi
Diiring riang wajah berseri
Tapi
Bukankah harusnya bersedih
Berpisah tak pernah menyenangkan
Bisa jadi tak pernah ada lagi pertemuan
Mengingat apa yang selalu dibawanya saat datang
Dan betapa mulia dirinya
Apa pasal melepasnya dengan gembira
Apakah karena tak ada lagi lelah bangun pagi?
Tak perlu menahan perih lambung hingga mentari pergi?
Pegal kaki terlalu lama berdiri?
Atau bosan dengan bacaan yang tak dimengerti?
Hari ini
Yang seharusnya fitri
Semua hilang bersamanya pergi
Aku malah berjingkrak menari
Rayakan kebebasan lagi
Menyimpan kembali semua ke dalam laci
Atau lemari
Membiarkannya berdebu hingga nanti
Jika sempat bertemu kembali
Ah, betapa bodohnya.
Na'uudzubiLlaahi min dzaalik

Takut terbiasa



Ujung timur tebet, 23 Mei 2020

Ketika semua seperti jauh dari sudah
Dan terasa semakin sama
Katanya kita harus terbiasa
Menjadi maklum pada yang tak pernah lumrah
Menatapmu separuh wajah
Dengan jarak di antara
Menerka rasa pada binar mata
Adakah kau bicara, tersenyum, tertawa
Atau geram menahan marah
Tanpa hangat erat pelukan atau sekedar tangan yang berjabat
Sesekali melingkar dalam jejaring
Bising namun sepi di keliling
Canggung kala mendadak hening
Terkurung dalam ruang dan waktu yang luang
Masjid yang lengang
Suara muadzin murung kehilangan tuah
Ibadah-ibadah tanpa jamaah
Dalam sempit sehelai sajadah
Sendiri
Ngeri
Jiwa yang pergi
Tak pernah kembali
Tanpa perayaan, penghormatan
Atau sekedar kata perpisahan
Mudah-mudahan ini hanya sementara
Sungguh aku takut jika nanti jadi biasa

Latte dan Croissant Keju

Ujung timur tebet, 4 Mei 2020

Dari dalam jenuh
Ku ketuk pintumu dari jauh
Mencari sela pada jendela
Untuk selipkan rindu
Pada deru suara merdu
Gigi gerigi yang beradu
Semerbak menyeruak
Bersama uap hangat mengasap
Dan cinta yang larut
Hanyut
Dalam bual tanpa asal
Bincang tak berhujung
Gunjing jauh dari rampung
Betapa aku rindu
Pada dulu
Duduk di situ
Di bangku jangkung
Bundar tak bersandar
Tempat biasa ku menunggu
Senyummu membawakanku
Secangkir latte dan croissant keju

Gembira Bicara Tanpa Suara


Ujung timur tebet, 18 April 2020

Kita bertukar kata tanpa suara
Berbagi cerita tanpa bicara
Mencoba mengingat rupa dalam kepala
Berharap untuk tak kehilangan rasa
Dari setiap kata dan tanda baca
Pada awal senja di waktu yang tak biasa
Kita saling melempar sapa serta canda
Sesekali tertawa dengan emoji
Jemari menghibur jiwa dari raga lelah terisolasi
Cerita-cerita tak berfaedah
Soal kopi dalgona dan warung kopi bersahabat lagi ramah
Soal band punk favorit saat SMA
Sekedar menghindar dari jengah
Atas berita dan statistik angka-angka
Perdebatan benar atau salah penambah gelisah
Saat ini
Kita sangat butuh gembira
Walau tidak sempurna
Hingga nanti
Kita bisa lagi bicara
Dengan semestinya

Aku dan Bosku

Ujung timur tebet, 11 April 2020

Si bos makan di dalam, aku menyantap angin malam

Si bos bersama wanita idaman, aku berteman debu jalanan

Si bos bercanda tertawa gembira, aku termangu termenung nelangsa

Si bos menyesap anggur kelas dunia dituang penuh kewaspadaan, aku menyeruput kopi tiga ribuan diseduh serampangan

Si bos menghisap cerutunya dalam-dalam, aku terbatuk asap kretek rasa kemenyan

Si bos mengangguk pelan dialun komposisi rumit produksi musisi berskill tinggi, aku mengangguk terkantuk menahan bosan kesepian selepas radio tutup siaran

Si bos lelap dibelakang, aku tetap terjaga memegang kemudi

Si bos tiba disambut ruang kosong nan dingin, aku disapa bilik sempit penuh kehangatan

Si bos sarapan sambil membaca koran dengan pikiran penuh beban, aku menyesap kopi pahit, gorengan, berteman celoteh penuh kebebasan

Si bos memutar otak seharian, aku mengisi kotak-kotak tts sambil tiduran

Si bos pusing mikir bayar hutang perusahaan dan gaji karyawan, aku sembunyi ditagih bayar kontrakan dan cicilan

Si bos melamun memandang jalan, aku terkaget disalip pemotor sialan

Si bos mengeluh sulitnya hidup, aku teramat akrab dengan beban yang menghimpit

Si bos bilang enaknya jadi aku, aku manggut-manggut tanda setuju

Tini, tawa dan ayahnya

Ujung timur tebet, 3 April 2020

Binar bola matanya
Riang menembus dinding kaca
Batas tebal antara dirinya dan dunia di seberang sana
Berbeda
Lampu menyala aneka warna
Gadis-gadis kecil sebaya
Gembira
Di atas sepatu roda
Lalu dia tertawa
sambil bertanya
Ayah, kapan ajak aku kesana

Sayu sinar matanya
Menatap samar bayang si tini pada dinding kaca
Batas tebal antara dirinya dan harapan di seberang sana
Air mata
Bertanya kenapa tidak di sana
Ingin rasanya ajak tini kesana
Tapi tangan hitamnya
Tak cukup daya
Lirih dia berkata
Kalimat yang selalu sama
Maaf nak, lain waktu saja

Matanya menatap lekat-lekat
Wajah lelah penuh gurat
Ia tersenyum hangat
Memeluk kaki pria itu erat-erat
Binar matanya memberi isyarat
Tidak perlu kau kecewa
Karena tidak juga aku
Tak perlu lain waktu
Aku tidak menunggu
Di sini pun tidak mengapa
Kemudian dia tertawa
Tawa yang persis sama

Dari dalam tenda



Teras danoe - pengalengan, 8 Maret 2020

Alam selalu jadi guru terbaik soal kehidupan
Tanyalah dia tentang semua persoalan
Maka kau akan dapatkan jawaban
Bukan lewat berbaris teks membosankan pada buku-buku tebal berdebu di atas rak perpustakaan
Namun melalui keindahan penciptaan
Tanyalah dia soal harapan
Kau temukan fajar yang merekah
Tanyalah dia soal kelembutan
Kau jumpai senja yang memerah
Tanyalah dia soal kekuatan
Kau dapati gelombang dan badai topan
Tanyakan dia soal keteguhan
Kau temui gunung dan karang
Tanyakan dia soal ketekunan dan kesabaran
Kau lalui tebing tajam dan curam
Tanyakan dia soal kerendahan hati
Kau tertunduk di kaki langit yang tak berhad
Tanyakan dia soal kebijaksanaan
Kau terapung di laut yang dalam
Dan tanyakan dia soal ketulusan
Maka semuanya akan dia berikan
Tanpa balasan
Tanpa bayaran
Semua datang dari dalam hati
Seperti cantigi bagi pendaki
Sepenuh hati
Seperti eidelweis di puncak yang tinggi
Dan akhirnya Menyentuh hati
Karenanya alam selalu mengagumkan

Kembalilah ke alam
Belajar padanya
Jadilah sepertinya
Karena kita sejatinya
Bagian darinya