Tiga singa di dadaku
Bagaimana bisa?
Kota ini mau sehat
Usia, tua dan surga
Ujung timur tebet, 1 Maret 2021
Apa arti usia kalau sekedar tua tapi tidak juga bertambah bijaksana.
Sekedar hidup lebih lama tapi tidak ada bekas yang dirasa.
Sekedar jauh jarak yang ditempuh namun tak kunjung tahu di mana akan berlabuh.
Sekedar ukuran waktu, berlalu satu demi satu.
Sekedar peringatan tanggal kelahiran dan jatah hidup yang berkurang.
Harusnya kita semakin risau saat umur kian bertambah. Mulai menghitung-hitung bekal untuk pulang. Mulai merancang apa jawab saat ditanya soal kemana usia. Mulai mengira-ngira dimana tempat kita kembali. Surga atau neraka.
Aku pernah dengar kata seorang sholeh, masalah seorang beriman adalah ketika ia tidak masuk surga.
Sahabat, nasihatilah aku yang tak pernah rampung menghitung untung dan sibuk menumpuk harta. Khawatir yang aku dapat tak membawa manfaat di akhirat.
Doaku, juga untukmu sahabat, semoga tiap rupiah dari laba yang diperoleh, dari aset yang bertambah, pada tiap usia yang tersisa adalah satu langkah kita lebih dekat menuju jannah.
OPINI GEMBEL: Momen
Ujung timur tebet, 11 Februari 2021
Hidup adalah perjalanan.
Ah, cliché.
Tapi biar saja silahkan berhenti
jika tidak minat.
Baiklah mari kita lanjutkan
Hidup adalah sebuah perjalanan
menyampaikan kita pada banyak persimpangan. Di tiap-tiapnya kita akan dipaksa
mengambil pilihan untuk menentukan arah tujuan kemana langkah akan dilanjutkan.
Seringkali tepat dalam menentukan pilihan tapi tidak jarang juga jauh dari
akurat. Kadang kita sadar bahwa telah menyimpang arah tapi tak juga berputar berbalik
arah. Melewatkan satu-dua putaran dengan harapan di depan masih ada kesempatan.
Tapi siapa yang tahu apakah di depan masih ada atau yang barusan adalah yang
terakhir.
Kita memang selalu menunggu momen
yang tepat untuk berubah. Walau tak pernah tahu juga kapan yang tepat itu tiba.
Momen datang silih berganti tapi terlewat begitu saja. Mungkin sudah tabiat
tidak senang pada apa-apa yang baru. Takut pada perubahan karena tak tahu apa
yang ada di hadapan. Maka berubah bukan saja soal momen tapi juga soal niat dan
keberanian melangkah. Karena sejatinya angin perubahan berhembus sepanjang
masa. Persoalannya apakah kita berani mengembangkan layar dan menyesuaikan
arah.
Keuangan syariah belakangan
mendapat momen yang sangat baik untuk menyelaraskan arah. Giatnya masyarakat
kelas menengah hijrah bersyariah, bersepakatnya bank-bank syariah untuk merapat
dalam satu saf atas dasar ukhuwah, dan hebohnya usulan wakaf sebagai sumber
pendanaan negara merupakan peluang untuk membuat perubahan. Game changer, bahasa kerennya. Saat
begitu banyak mata memandang dan memperhatikan, inilah adalah momen bagi industri
keuangan syariah untuk berbenah dan berubah. Dari hanya memiliki produk yang terbatas
dan tidak kompetitif menjadi lebih beraneka sesuai kebutuhan pasar. Dari berteknologi
lama menjadi canggih. Dari sekedar cadangan menjadi pilihan. Hingga kemudian profit
meloncat karena efisiensi, Aset meraksasa
karena modal yang makin kokoh. Pangsa pasar yang melesat jauh meninggalkan
kutukan 5% yang baru-baru saja terlewati. Kini mungkin tidak perlu ada batas angka
yang harus ditetapkan sebagai kutukan.
Tapi sepertinya sayang kalau
momen ini hanya dimanfaatkan untuk sesuatu yang berbau dunia saja, padahal tujuan
keuangan syariah adalah dunia dan akhirat. Maka ini sepertinya juga momen yang
tepat untuk mengkalibrasi arah akhirat industri keuangan syariah. Dari sekedar
membuat versi syariah dari produk-produk ribawi, menjadi berdiri tegak penuh
percaya diri menampilkan orisinalitas produk keuangan syariah. Dari senyum ramah
terpaksa sebagai bagian dari prosedur layanan menjadi ketulusan akhlak karimah
bagian dari syariah. Dari berhitung mengejar angka-angka menjadi memburu
manfaat demi manfaat. Hingga profit yang melesat dan aset yang meraksasa dirasakan
sebagai manfaat oleh umat. Berkah menjadi bekal ke akhirat. Hingga pangsa pasar
membesar bersama maslahat.
Mudah-mudahan momen ini tidak
terlewat begitu saja. Mudah-mudahan mereka yang berkepentingan berani mengembangkan layar dan menentukan arah. Sambil menunggu, mari angkat cangkir dan menikmati momen.
OPINI GEMBEL: Bukan Sekedar Itu
OPINI GEMBEL: Menjadi Antik
Ujung Timur Tebet, 21 Januari 2020
Tidak selamanya yang tua tertinggal
zaman dan hilang dihantam perubahan. Tidak selamanya yang kuno tertatih
mengikuti waktu yang berlari cepat tidak terpakai. Tidak selamanya yang usang
dimakan usia mati hilang tak bernilai. Maka tak seharusnya kita khawatir dengan
perubahan zaman yang disupiri perkembangan teknologi. Tak perlu bersedih karena
tidak punya sumber daya untuk mengikuti tren teknologi terkini. Apalagi
buru-buru membuat peti mati dan menggali kubur sendiri kalau tak mampu menyerap
teknologi mutakhir, go online atau digital.
Tenang saja dan mari kita belajar
dari barang antik. Tengoklah barang-barang antik. Semakin lama waktu
meninggalkannya, semakin ramai orang mencarinya, semakin tinggi harganya. Vintage, begitu sebut orang-orang yang
menggemarinya. Memang tidak banyak yang menggemarinya, tapi tetap ada saja dari
zaman ke zaman. Barang-barang antik ini secara fungsi tentu kalah canggih dari
kompatriotnya yang modern dengan fungsi didukung teknologi canggih. Lalu apa
yang menyebabkannya dia bertahan menantang zaman modern dengan nilainya yang tinggi
dan masih memiliki penggemarnya sendiri?
Sebabnya adalah rasa dan emosi,
sesuatu yang dimiliki setiap manusia, kuno maupun modern analog maupun digital.
Bagaimanapun manusia punya rasa dan emosi yang harus dipuaskan. Dan seringkali
teknologi yang lebih teknikal dan fungsional melupakan aspek rasa dan emosi.
Fungsi boleh canggih, tapi apa enaknya kalau tidak membangkitkan emosi. Maka
secanggih-canggihnya video call
memfasilitasi kita bertemu, kita tetap saja rindu bicara bertatapan langsung
bertukar emosi. Sepraktis-praktisnya kopi dan mie instan untuk dibuat di dapur
sendiri, masih juga kita pergi ke warkop untuk menikmatinya. Semudah-mudahnya
e-book, tetap saja beda rasanya ketika memegang buku betulan, mencium aroma
kertasnya dan merasa puas melihatnya terpajang di rak buku kita. Rasa dan emosi
ini yang menjadikan barang antik punya nilai. Barang antik kehilangan nilai
fungsinya tapi dia tidak kehilangan nilai rasa dan emosinya.
Isu perubahan zaman, digitalisasi
dan kekuasaan kaum milenial tentu juga merisaukan pelaku Bank Pembiayaan Rakyat
Syariah (BPRS). Pertanyaan bagaimana bertahan, bertransformasi, bersaing
memenangkan kompetisi dengan keterbatasan sumber daya melawan mereka yang
unggul segala-gala tentu sangat mengganggu pikiran. Merasa khawatir walau tentu
semua percaya kisah david dan goliat. Ah, kisah david dan goliat. Ini juga
harusnya menginspirasi, karena david unggul sepertinya bukan karena kecanggihan
teknologi dan besarnya sumber daya. Dan ditambah ilmu terkait barang antik tadi
seharusnya tidak perlu merasa khawatir berlebihan. Dengan meningkatkan nilai melalui
eksploitasi atas rasa dan emosi, mungkin BPRS bisa bertahan dan memenangkan
kompetisi di tengah keterbatasan yang dimiliki.
BPRS dapat menjadikan rasa dan
emosi sebagai fokus penciptaan nilai dalam proses bisnisnya. Alih-alih bicara
soal digital banking mungkin harus
lebih sering bicara tentang emotional
banking. Pengalaman perbankan yang menyentuh rasa dan emosi manusia bukan
sekedar fungsi saja sebagaimana barang antik membangkitkan kepuasan emosional pemiliknya.
Ada rasa bahagia, senang, gembira, tenang dan bangga setelah bertransaksi. Karena
rasa dan emosi soal manusia maka seharusnya dapat dilakukan tanpa teknologi
yang rumit dan canggih.
Paling tidak ada dua hal yang
bisa menciptakan rasa dan emosi. Pertama tentu soal syariah. Syariah mampu memberikan rasa dan nilai emosi yang tak
terkira. Tentu kalau dijalankan sebagaimana mestinya. Keinginan banyak orang
untuk belajar islam dan berislam secara sempurna dalam seluruh sendi kehidupan memunculkan
rasa dan emosi yang butuh dipuaskan dan BPRS bisa hadir sebagai pemuas rasa dan
emosi tersebut. Konsistensi produk yang sesuai syariah, ruang diskusi dan akomodasi
terhadap perbedaan mengenai penafsiran prinsip muamalah dan pelayanan berbasis
akhlak yang mulia tentu bisa memberikan pengalaman perbankan yang syarat rasa
dan emosi. Tidak apalah sedikit repot, sedikit mahal, sedikit jauh asal hati bahagia
dan tenang dunia dan akhirat.
Yang kedua adalah dampak sosial. Konon
kabarnya para pemilik dana, investor kaya raya, juga investor dari kalangan
milenial mulai peduli dengan dampak sosial dari investasi mereka disamping
tingkat pengembalian. Mereka sangat perhatian dengan isu kemiskinan, kesehatan,
pendidikan, lingkungan hidup dan sangat ingin investasinya punya dampak pada
perbaikan isu-isu sosial ini. Ada rasa dan emosi yang juga harus dipuaskan dari
berinvestasi. Rasa dan emosi yang sekali lagi sangat mungkin dipuaskan oleh
BPRS mengingat dampak sosial merupakan seusatu yang melekat pada syariah dan khittah BPRS sebagai bank yang melayani kelas
kecil dan menengah dan beorientasi pada peningkatan kesejahteraan. Produk
pembiayaan yang memberikan kemanfaatan bagi segmen masyarakat kecil menengah, program
kemanfaatan sosial dan pemberdayaan yang menjadi bagian tak terpisah dari
bisnis BPRS, menjadikan dampak sosial sebagai ukuran kinerja dan secara rutin
mempublikasikan dan mempromosikannya bisa menjadi strategi bisnis yang ciamik,
terutama dalam memenangkan hati investor. Apalagi ditambah dengan produk-produk
investasi inovatif yang disambungkan dengan produk kemanfaatan sosial misal wakaf,
zakat dan infak dan bukan hanya sekedar menjadi pengumpulnya.
Makin ciamik!
Tapi tentu saja bukan maksudnya tidak
perlu peduli dan mengerahkan segala daya upaya mengikuti perkembangan teknologi,
hanya saja mungkin kita bisa melihat tekanan perubahan ini dari sisi yang berbeda.
Sehingga memungkinkan kita bisa melihat jalan keluar yang lain. Atau jangan-jangan
justru kekhawatiran akan tergilas karena kejamnya dampak perkembangan zaman
digital memalingkan kita dari hal lain yang jauh lebih penting dan lebih
bernilai dari sekedar mempercanggih fungsi. Maka sambil sedikit demi sedikit meningkatkan
kapasitas teknologi yang dimiliki sebagai
strategi jangka pendek mungkin BPRS masih bisa memenangkan persaingan dengan
mengeksploitasi rasa dan emosi. Menjadikan rasa dan emosi sebagai episentrum
strategi bisnis. Menjadi barang antik.