Gendut, tua dan jelek
Ujung timur tebet, 21 Agustus 2019
Aku jelek ya?
Katamu berulang
Aku mengingat kapan kau terlihat tidak cantik
Aku gendut ya?
Katamu lagi
Aku mengingat sejak kapan aku mulai terganggu dengan ukuran badan
Aku kelihatan tua ya?
Katamu kemudian
Aku mengingat kapan keriput di wajahmu mulai mengusikku
Aku gak menarik lagi ya?
Katamu kecewa
Aku mengingat kapan aku pernah memalingkan wajahku darimu
Ah, aku tak perlu menjawab pertanyaan itu
Karena aku tak ingat pernah memilihmu karena parasmu
Karena ukuran baju
Karena usia yang pasti bertambah
Karena ada tidaknya keriput di wajah
Atau karena lekuk tubuh yang indah
Tidak percaya ya
Masih perlu jawaban
Baiklah
Kamu memang gendut, tua, jelek dan tidak menarik
Tapi aku rasa aku memang orang aneh yang jatuh cinta dengan perempuan gendut, tua, jelek dan tidak menarik.
Dan sudilah kau juga mencintai laki-laki buncit, tua, jelek dan tidak menarik
Memotret waktu
Ujung timur tebet, 20 Agustus 2019
Waktu tidak pernah berhenti menunggu. Ia akan berjalan dan terus melaju. Tidak ada yang tahu kemana waktu akan menuju. Tetapi semua mengerti bahwa ia tidak akan berpaling kepada yang telah lalu.
Saat waktu begitu bergegas pergi, ia tinggalkan kenangan aneka rasa dalam hati dan membuat semua menjadi lebih berarti. Kadang ia menggores jejak pada bersenti dinding bangunan megah yang pernah tiada tanding. Kadang ia menulis cerita pada berjengkal tanah yang termaktub dalam berlembar catatan sejarah. Dan kita mengumpulkannya dalam album foto, rekaman video atau kisah pengantar tidur.
Kita memang begitu senang menghabiskan waktu untuk merekam apa yang waktu tinggalkan. Melawat ke berbagai penjuru dunia. Berdecak kagum atas kejayaan masa dahulu yang telah Tuhan pergilirkan di antara umat manusia. Namun sedikit sekali mengambil hikmah atas itu. Mendaki puncak-puncak dunia. Terpesona dengan fajar yang merona. Terpana dengan temaram senja. Namun sedikit berpikir tentang ayat-ayat Tuhan yang berserak pada keduanya.
Kita yang tercecer hari ini, saat waktu tak bersisa lagi, tidak pernah benar-benar menyadari dan menahami apa yang sedang terjadi. Namun kemudian menangisi semua yang terlewati. Kita tenggelam dalam kenangan atau sibuk membuat kenangan. Padahal kenangan pasti mengecewakan. Seindah apapun ia. Andai lebih lama, lebih cepat, lebih besar, lebih kecil, lebih banyak, lebih sedikit. Demikianlah kekecewaan selalu memayungi kenangan.
Demi waktu yang berjalan, kita dalam kerugian. Kecuali bagi mereka yang mempersiapkan diri untuk hari esok. Memang kita harus berhenti mencatat dan memotret kenangan dan mulai menulis dan menggambar masa depan.
Bapak bilang
Ujung timur tebet, 17 agustus 2019
Bapak pernah bilang
Negara ini negara besar
Bukan karena banyaknya gedung tinggi menjulang
Atau tumpahnya orang cerdik lagi pintar
Tapi karena kita pernah punya sebelas orang yang ditakuti di asia
Berbaju merah dengan burung garuda di bagian dada
Bagi bapak
besar negara ini tergantung dari lihainya kita mengolah bola
Bagi bapak
bola adalah harga diri
Kebanggaan dan kehormatan
Patriotisme dan nasionalisme
Kebahagiaan dan kesejahteraan
Bapak tak pernah putus harapan
Pada tiap pertandingan
Bahwa kita akan mengangkat piala kemenangan
Walau tiap kali tertimpa kekecewaan
Begitu cepat bapak memaafkan
Mungkin juga melupakan
Sedihnya kekalahan
Dan kembali bersorak dengan ikhlas mendukung tim kesayangan
Di usia yang tak lagi muda
Bapak cuma punya impian sederhana
Bukan melihat kita jadi juara dunia
Tapi sekedar tak lagi kalah dari negara tetangga
Bapak pernah bilang
Negara ini negara besar
Bukan karena banyaknya gedung tinggi menjulang
Atau tumpahnya orang cerdik lagi pintar
Tapi karena kita pernah punya sebelas orang yang ditakuti di asia
Berbaju merah dengan burung garuda di bagian dada
Bagi bapak
besar negara ini tergantung dari lihainya kita mengolah bola
Bagi bapak
bola adalah harga diri
Kebanggaan dan kehormatan
Patriotisme dan nasionalisme
Kebahagiaan dan kesejahteraan
Bapak tak pernah putus harapan
Pada tiap pertandingan
Bahwa kita akan mengangkat piala kemenangan
Walau tiap kali tertimpa kekecewaan
Begitu cepat bapak memaafkan
Mungkin juga melupakan
Sedihnya kekalahan
Dan kembali bersorak dengan ikhlas mendukung tim kesayangan
Di usia yang tak lagi muda
Bapak cuma punya impian sederhana
Bukan melihat kita jadi juara dunia
Tapi sekedar tak lagi kalah dari negara tetangga
Lalu
Ujung timur tebet, 4 agustus 2019
Laluku tidak pernah benar-benar berlalu
Sesekali dia menghampiriku
Dalam wujud yang tak tentu
Dalam rasa malu
Dalam pilu
Laluku tidak pernah benar-benar pergi
Sepertinya dia tinggal disini
Menyatu dalam diriku hari ini
Dalam benak
Dalam tindak
Orang bilang biarkan ia berlalu
Tapi tak mau ia kusuruh pergi
Sudah kupaksa berbilang waktu
Tapi semakin keras ia berdiri
Orang bilang berdamailah dengannya
Aku bertanya bagaimanakah caranya
Pasrah menyerah kalah
Dan membiarkannya berkuasa
Ah, lalu
Bagaimana aku mengenalmu dulu
Andai kita tak pernah bertemu
Dan kini
Bisakah kau berdiri sendiri
Berjanji tak menjadi lalu esok hari
Laluku tidak pernah benar-benar berlalu
Sesekali dia menghampiriku
Dalam wujud yang tak tentu
Dalam rasa malu
Dalam pilu
Laluku tidak pernah benar-benar pergi
Sepertinya dia tinggal disini
Menyatu dalam diriku hari ini
Dalam benak
Dalam tindak
Orang bilang biarkan ia berlalu
Tapi tak mau ia kusuruh pergi
Sudah kupaksa berbilang waktu
Tapi semakin keras ia berdiri
Orang bilang berdamailah dengannya
Aku bertanya bagaimanakah caranya
Pasrah menyerah kalah
Dan membiarkannya berkuasa
Ah, lalu
Bagaimana aku mengenalmu dulu
Andai kita tak pernah bertemu
Dan kini
Bisakah kau berdiri sendiri
Berjanji tak menjadi lalu esok hari
Janji
Ujung timur tebet, 2 agustus 2019
Selamat pagi bidadariku
Aku pergi dulu
Maafkan aku terburu-buru
Hanya sekejap memelukmu
Dan menciummu
Tak sempat menikmati roti dan susu buatanmu
Aku benar benar tak ada waktu
Karena tuanku sudah menunggu
Aku takut akan membuatnya menggerutu
Kemudian mengusirku
Kau tahu aku hanya seorang babu
Kehendakku tidak lagi laku
Bukan aku yang memilih begitu
Tapi sabarlah sayangku
Ini semua demi kamu
Selamat siang sayang
Ingin sekali rasanya pulang
Menemanimu makan siang
Berbincang santai di teras belakang
Makan es krim atau goreng pisang
Atau tidur hingga sore menjelang
Tapi aku masih harus menggigit kekang
Perintah tuanku masih terdengar lantang
Matanya masih tajam memandang
Tak berani aku menentang
Aku takut ia akan meradang
Kau tahu aku hanya kuda tunggang
Kehendakku sudah lama hilang
Kau tau aku hanya layang-layang
Tak pernah bebas terikat benang
Tapi sabarlah sayang
Sebentar lagi aku akan pulang
Selamat malam kekasih
Maafkan membuatmu bosan menanti
Sudah kucoba secepatnya berlari
Tetapi kakiku begitu ringkih
Tubuhku begitu letih
Memaksaku harus tertatih
Sungguh ingin memadu kasih
Bertukar cerita tentang hari ini
Tentang cita cita yang tak pernah kita raih
Membacakan dongeng tentang peri, putri dan para kurcaci
Mengantarkanmu tidur sambil bernyanyi
Membisikikan kata cinta dengan lirih
Bangunlah walau untuk semenit lagi
Biar dapat kupenuhi janji
Yang kuucap sejak pagi tadi
Agar bertambah yakin hati ini
Untukmulah semua perih
Selamat tidur sayang
Sampai ketemu saat fajar menjelang
Selamat pagi bidadariku
Aku pergi dulu
Maafkan aku terburu-buru
Hanya sekejap memelukmu
Dan menciummu
Tak sempat menikmati roti dan susu buatanmu
Aku benar benar tak ada waktu
Karena tuanku sudah menunggu
Aku takut akan membuatnya menggerutu
Kemudian mengusirku
Kau tahu aku hanya seorang babu
Kehendakku tidak lagi laku
Bukan aku yang memilih begitu
Tapi sabarlah sayangku
Ini semua demi kamu
Selamat siang sayang
Ingin sekali rasanya pulang
Menemanimu makan siang
Berbincang santai di teras belakang
Makan es krim atau goreng pisang
Atau tidur hingga sore menjelang
Tapi aku masih harus menggigit kekang
Perintah tuanku masih terdengar lantang
Matanya masih tajam memandang
Tak berani aku menentang
Aku takut ia akan meradang
Kau tahu aku hanya kuda tunggang
Kehendakku sudah lama hilang
Kau tau aku hanya layang-layang
Tak pernah bebas terikat benang
Tapi sabarlah sayang
Sebentar lagi aku akan pulang
Selamat malam kekasih
Maafkan membuatmu bosan menanti
Sudah kucoba secepatnya berlari
Tetapi kakiku begitu ringkih
Tubuhku begitu letih
Memaksaku harus tertatih
Sungguh ingin memadu kasih
Bertukar cerita tentang hari ini
Tentang cita cita yang tak pernah kita raih
Membacakan dongeng tentang peri, putri dan para kurcaci
Mengantarkanmu tidur sambil bernyanyi
Membisikikan kata cinta dengan lirih
Bangunlah walau untuk semenit lagi
Biar dapat kupenuhi janji
Yang kuucap sejak pagi tadi
Agar bertambah yakin hati ini
Untukmulah semua perih
Selamat tidur sayang
Sampai ketemu saat fajar menjelang
Manusia
Ujung timur tebet, 29 jul 2019
Coba ingat bagaimana kau datang
Mulai dari pergumulan bak binatang
Cairan menjijikan yang terbuang
Hingga keluar dari lubang
Diantara kaki yang mengangkang
Bukankah Tuhanmu yang menjadikanmu sebaik-baik bentuk
Yang memuliakanmu diantara makhluk
Bukankah Tuhanmu yang mengajarkanmu nama-nama
Yang memberikanmu ilmu mengelola dunia
Bukankah Tuhanmu yang menyuburkan tanah dan memberimu rizki yang banyak
Yang dengannya kamu makan dan beranak pinak
Lantas kenapa merasa digdaya
Berjalan dengan jumawa
Karena tumpukan titipan harta?
Yang akan membawamu ke neraka?
Lantas kenapa merasa besar
Seolah-olah yang paling benar lagi pintar
Karena lembar ijazah tanda pernah menuntut ilmu?
Yang hanya setetes air di ujung kuku?
Lantas kenapa begitu angkuh
Kepala tengadah memberi dawuh
Karena status yang membalut tubuh?
Yang kelak kau sesali saat di mahsyar bermandi peluh
Saudara,
Kau dan aku berasal dari jenis yang sama
Siapa tahu yang lebih taqwa
Siapa lebih mulia
Siapa berhak mendapat surga
Sahabat,
kita mungkin hanya manusia bangsat
Tak layak mendapat hormat
Kita mungkin hanya manusia keparat
Pantas mendapat laknat
Coba ingat bagaimana kau datang
Mulai dari pergumulan bak binatang
Cairan menjijikan yang terbuang
Hingga keluar dari lubang
Diantara kaki yang mengangkang
Bukankah Tuhanmu yang menjadikanmu sebaik-baik bentuk
Yang memuliakanmu diantara makhluk
Bukankah Tuhanmu yang mengajarkanmu nama-nama
Yang memberikanmu ilmu mengelola dunia
Bukankah Tuhanmu yang menyuburkan tanah dan memberimu rizki yang banyak
Yang dengannya kamu makan dan beranak pinak
Lantas kenapa merasa digdaya
Berjalan dengan jumawa
Karena tumpukan titipan harta?
Yang akan membawamu ke neraka?
Lantas kenapa merasa besar
Seolah-olah yang paling benar lagi pintar
Karena lembar ijazah tanda pernah menuntut ilmu?
Yang hanya setetes air di ujung kuku?
Lantas kenapa begitu angkuh
Kepala tengadah memberi dawuh
Karena status yang membalut tubuh?
Yang kelak kau sesali saat di mahsyar bermandi peluh
Saudara,
Kau dan aku berasal dari jenis yang sama
Siapa tahu yang lebih taqwa
Siapa lebih mulia
Siapa berhak mendapat surga
Sahabat,
kita mungkin hanya manusia bangsat
Tak layak mendapat hormat
Kita mungkin hanya manusia keparat
Pantas mendapat laknat
Bunga, Pohon, Daun, Matahari dan Angin
Ujung Timur Tebet, 25 Juli 2019
Lembah damar pagi ini. Aku terjaga diantara batang-batang besar pohon damar yang menjulang. Suara binatang malam yg penuh misteri berganti dengan kicau burung pagi yang membangkitkan kecerian. Lagu yang sama indahnya namun dengan genre yang berbeda. Daun dan tanah lembab dibasuh embun pagi. Angin pagi lembut berhembus membelai wajah. Kabut tebal beringsut pergi, seperti tirai panggung pertunjukan, bergeser terbuka mempertontonkan keindahan kreasi Sang Kuasa. Suasana tak lagi gelap, tapi sinar matahari belum lagi menyala. Syahdu. Misteri malam yang tersisa berpadu dengan harapan pagi yang mulai tumbuh. Hidup memang penuh tanda tanya, tetapi selalu tersedia jawaban di akhir babak. Dan pagi, adalah awal untuk mencari jawab.
Aku duduk di depan kemah. Sisa air wudhu di wajah membuat belaian angin semakin terasa. MenghadapNya di masjid berkubah langit, bersajadah tanah dan bermihrab kaki gunung memberikan rasa yang berbeda dari biasanya. Andai rasa yang sama ada ketika biasanya aku menghadapNya, diwaktu yang harus dibagi dengan makan siang, terburu-buru karena jadwal rapat menanti, dengan pikiran yang bercabang, dengan hati dan jasad yang lelah menghadapi macet ibu kota. Lembah damar pagi ini menguatkan arti Maha Besar, Maha Suci dan Maha Agung dalam setiap dzikirku yang biasanya berhenti sampai di ujung lidah.
Bidadari-bidadariku masih terlelap diselimuti dingin pagi yang menyejukkan. Melihat wajah-wajah mungil itu membuat hati tenang. Istriku melipat mukena di sudut tenda. Wajahnya tak pernah terbalut kosmetik namun tetap terlihat cantik. Dan bertambah cantik pagi ini. Sepertinya alam dan wanita merupakan padanan yang tepat. Lembah damar pagi ini menyadarkanku bahwa harta yang paling berharga sudah ada di depan mata tak perlu lagi mati-matian dikejar. Tinggal mati-matian dipertahankan.
Aruni, si sulung, ia ingin menjadi bunga. Karena bunga disukai banyak orang katanya. Jadilah bunga, namun jadilah seperti bunga hutan atau gunung. Seperti edelweis. Dia indah namun tidak mengumbar keindahannya. Dia jauh di atas gunung. Perlu perjuangan dan komitmen untuk dapat menikmati keindahannya. Dia indah lagi terhormat. Jadilah engkau disukai banyak orang karena keindahan dan kehormatanmu.
Ghifara, si tengah, bilang ia ingin menjadi pohon. Karena pohon banyak yang menyayangi. Jadilah seperti pohon di hutan, nak. Besar, tinggi, kokoh dan penuh kasih sayang kepada manusia. Seperti damar yang menghasilkan getah, seperti jati yang menghasilkan kayu, seperti cantigi yang merelakan dirinya bagi pendaki berpegangan. Jadilah engkau disayangi karena kasih sayang yang engkau berikan pada orang lain, karena pengorbanan yang kau lakukan atas nama mereka yang membutuhkan.
Laras, bayi kecilku dulu. Dia ingin menjadi daun. Karena daun digendong pohon. Ia ingin digendong sama kakak pipa, panggilannya untuk ghifara anak ku yang kedua. Ia hanya ingin dimanjakan. Ah, kamu memang masih terlalu kecil nak. Mudah-mudahan kasih sayang kakak-kakakmu akan membantumu mendapatkan cita-citamu. Yakinlah bahwa dunia penuh kasih sayang, kau hanya perlu mencarinya pada tempat yang tepat.
Istriku. Ia ingin menjadi matahari yang memberi manfaat. Kamu memang matahari bagi kami, yang menghangatkan, menghidupkan, dan menerangi. Tak terbayang bagaimana kami hidup tanpa matahari kami. Bersinarlah terus, sayang!
Sedangkan aku. Aku ingin menjadi angin. Yang berhembus lembut memberikan ketenangan namun dapat juga menjadi topan yang menghancurkan. Aku ingin menjadi lembut agar selalu menjadi tempat kembali yang tenang bagi keluargaku. Menjadi seperti angin darat yang meniup perahu, mengantarkan anak-anak meraih cita-citanya. Sesekali juga menjadi topan dahsyat yang menghancurkan halang yang melintang di hadapannya.
Sungguh luar biasa pengaruh alam pada manusia.
Sepertinya anak kota sepertiku memang perlu sesekali menjauh dari kota. Memutus diri dari jaringan internet, melarikan diri dari grup wa, mengucilkan diri dari berita online, mengistirahatkan diri dari target, bonus, laporan, meeting dan aksesoris kehidupan urban lainnya. Alam mampu mengajarkan apa yang tidak diajarkan kota. Dan soal hidup, alam memang guru terbaik.
Langganan:
Postingan (Atom)


