Tebet-Bogor
Tebet
Gerbong kereta berderet-deret
Manusia sesak berdempet
Cawang
Begitu cepat rindu datang
Seraut wajah jelas terbayang
Duren kalibata
Bukan ingin meninggalkan cinta
Karena hasrat ingin selalu bersama
Pasar minggu baru
Tunggu aku di ujung minggu
Di sebuah hari yang sendu
Pasar minggu
Waktu akan cepat berlalu
Sekejap mata tanpa kau tahu
Tanjung barat
Memendam rasa tentulah berat
Memacu jantung berdegup cepat
Lenteng agung
Biar kunyanyikan sebuah kidung
Agar cinta turut bersenandung
Universitas pancasila
Temani hati yg sedang lara
Sebab setelah lara ada gembira
Universitas indonesia
Setengah jalan sudah
Rindu makin bertambah-tambah
Pondok cina
Adakah kau merasa sama
Atau lupa mulai menyapa
Depok baru
Masihkah engkau akan menunggu
Di ujung waktu
Depok lama
Bersama cinta
Karena aku akan setia
Citayam
Lihatlah dalam dalam
Di tempat cinta bersemayam
Bojong gede
Di tempat segala rasa berparade
Menjadikan indah setiap episode
Cilebut
Akhir sudah terlihat menjemput
Kubisikkan salam perpisahan nan lembut
Bogor
Mungkin ada baiknya jeda sebentar
Basuh cinta yang sedikit kotor
Tua
Ujung Timur Tebet, 7 Juli 2019
Kemarin tak pernah terpikir menjadi tua
Pagi ini kulihat wajah yang mulai renta
Sinarnya tak lagi terang menyala
Binar matanya teramat lelah
Kemarin berdiri menantang usia
Pagi ini kulihat lemah tak berdaya
Tulang-tulang berderit tak berirama
Ototnya nyeri tak terkira
Kemarin gagah berwibawa
Pagi ini punggung tunduk terpaksa
Rambut hitam mulai kehilangan warna
Jemari menggenggam tanpa tenaga
Tak pernah kukira tua kan datang
Padahal belum usai bersenang-senang
Belum selesai lagi cerita kukarang
Belum usai lagu kudendang
Garis maut kini menjelang
Masih sempatkah aku menulis epilog
Sementara tersesat di tengah babak
Pada sebuah cerita tak bertema
Dengan tulisan tak terbaca
Sampaikah aku di akhir kalimat
Sementara tertatih di awal bait
Pada sebuah puisi tak berima
Dengan kata tak bermakna
Bukan tua yang membuatku takut
Bukan pula maut yang membuat nyali ciut
Tetapi menjadi tua tanpa pernah dewasa
Kemudian mati dan terlupa begitu saja
Tak cukup cerita untuk mengenang
Tak ada rupa untuk diingat
Hanya nisan yang akan hancur dikikis hujan
Setelahnya, benar-benar tak pernah dilahirkan
Nahila Laras Hati: Nikmat Tuhan Tak Terdustakan
Bicara Jiwa
Ujung timur tebet, 24 September 2011, 23.00WIB
Jiwa aku datang menghampirimu. Jangan lagi kau berpaling jiwa. Biarkan ku peluk mesra kau dan mengucap salam. Apa kabarku hari ini jiwa. Bicaralah jiwa. Bicaralah tentang aku. Apa kabarku hari ini. Bicaralah jiwa. Tentang aku. Aku yang pernah meninggalkanmu. Bicaralah jiwa. Tentang aku. Aku yang mencampakkanmu. Bicaralah jiwa. Tentang aku. Aku yang mengkhianatimu. Bicaralah jiwa. Tentang aku. Aku yang kehilanganmu. Bicaralah jiwa. Tentang aku. Aku yang merindukanmu. Bicaralah jiwa. Tentang aku. Aku yang sedang bingung. Bicaralah jiwa. Tentang aku. Aku yang berkubang takut. Bicaralah jiwa. Tentang aku yang khawatir. Bicaralah jiwa. Tentang aku. Aku yang kotor. Bicaralah jiwa. Tentang aku. Aku yang jumud. Bicaralah jiwa. Tentang aku. Bicaralah sepuasnya. Tak kan kuhalangi kau hari ini. Bicaralah jiwa. Tentang aku. Bicaralah sesukamu. Kali ini aku akan mendengar dengan khusyuk. Bicaralah jiwa. Tentang aku. Aku menurutmu jiwa. Bicaralah jiwa. Tentang aku. Aku dulu, kemarin, lalu, kini, nanti dan esok. Bicaralah jiwa. Tentang aku. Ketakutanku, kekhawatiranku, kecemasanku, dosaku. Bicaralah jiwa. Semua tentang aku. Bicaralah jiwa. Jangan halangi suaramu. Tentang aku. Bicaralah jiwa. Tentang aku. Kemarahanku. Kesombonganku. Kebodohanku. Bicaralah jiwa. Tentang aku. Kepura-puraanku, kerakusanku, kelicikanku. Bicaralah jiwa. Tentang aku.Bicaralah jiwa. Tentang aku. Kemalasanku, kebodohanku, kepengecutanku. Bicaralah jiwa. Tentang aku. Bicaralah jiwa. Tentang aku. Tentang aku. Bicaralah jiwa. Tentang aku. Aku yang sakit. Aku yang ingin sembuh. Bicaralah jiwa. Tentang aku. Aku yang terpenjara, aku yang ingin merdeka. Bicaralah jiwa.tentang aku. Aku yang tak tahu aku selain aku yang aku tahu. Bicaralah jiwa. Tentang aku. Aku yang lain. Aku yang Tuhan takdirkan untukku. Bicaralah jiwa. Tentang aku. Aku yang hidup. Aku yang merdeka. Aku yang tak pernah takut. Bicaralah jiwa. Tentang aku. Aku yang penuh cinta. Bicaralah jiwa. Tentang aku. Aku yang sehat. Bicaralah jiwa. Tentang aku. Aku yang bukan aku yang aku tahu. Bicaralah jiwa. Tentang aku. Aku yang selalu maju. Bicaralah jiwa. Tentang aku. Aku yang bergelora. Bicaralah jiwa tentang aku. Aku yang berbuat. Bicaralah jiwa. Tentang aku. Hakikat aku. Bicaralah jiwa. Tentang aku. Tentang aku. Bicaralah jiwa. Tentang aku. Aku yang tenang.
Kita di tepi jalan
ujung timur tebet, 1 Syawal 1432H 23:15WIB
Turunlah sejenak untuk sekedar mengetahui berapa tinggi engkau telah mengangkasa. Naiklah ke permukaan barang sebentar untuk mengetahui berapa dalam engkau telah menyelam. Berhentilah sejenak dan tengoklah kebelakang agar nampak berapa jauh engkau telah berjalan. Bergeserlah sekejap agar terang benderang bagi engkau akan keberadaanmu saat ini.
Mungkin kau terlalu akrab dengan saat ini hingga lupa akan kemarin yang telah mengantarkanmu bertemu dengan hari ini. Mungkin kau terlalu terbiasa dengan apa yang ada hari ini hingga lupa untuk bersyukur bahwa kemarin boleh jadi ia tidak ada dan esok hari akan kembali tiada. Maka ketika semuanya sudah kehilangan makna dan harga, berhentilah barang sejenak untuk mulai melihat, mendengar dan merasakan.
Ketika aneka ragam hidangan yang tersaji di meja makanmu mulai tidak menggugah selera tengoklah mereka yang mungkin tidak setiap hari makan bermenukan daging. Tengoklah mereka yang sudah bersyukur kalau-kalau ada tempe yang bisa dijadikan teman bersantap. Tengoklah mereka yang sudah merasa untung kalau bisa makan tiga kali dalam sehari. Tengoklah mereka yang sudah merasa untung kalau ada yang dapat dimakan setiap harinya. Tengoklah mereka yang mungkin berhari-hari sudah makan dari tong sampah di depan restoran padang atau warung pinggir jalan.
Ketika tidak ada lagi mal dan butik yang dapat mendukung pemenuhan selera fashionmu maka lihatlah mereka yang cukup puas dengan gaya busana kwalitas sekian yang diobral di toko dekat terminal. Lihatlah mereka yang dengan riang berbelanja di pasar kaget depan kelurahan. Lihatlah mereka yang berebut pakaian bekas dalam pasar murah prakarsa sebuah partai politik. Lihatlah mereka yang tidak ingat lagi kapan terakhir kali berbelanja pakaian. Lihatlah mereka yang entah berapa lama setia mengenakan kaos butut berwarna merah bergambar kepala banteng yang sudah bolong sana-sini.
Ketika rumahmu tak lagi memberikan kenyamanan dan terasa sempit, lihatlah mereka yang setiap bulan resah membayar kontrakan. Lihatlah mereka yang tetap mencoba merasa lapang didalam rumahnya yang benar-benar sempit. Lihatlah mereka yang menghuni gubuk-gubuk reot di pinggir kali, samping rel kereta, dan tempat pembuangan sampah. Lihatlah mereka yang tidur beratapkan langit, beralaskan kardus, berlindungkan koran bekas dengan foto anggota dewan di halaman depan, di emper toko, di pinggir jalan.
Ketika pekerjaan, posisi, jabatanmu beserta penghasilannya saat ini tidak lagi membuatmu merasa cukup, maka lihatlah mereka yang sudah bertahun-tahun mengabdi menjadi pegawai rendahan berupah pas-pasan. Lihatlah mereka yang entah sudah berapa lama bekerja membersihkan jamban dari tahi para pegawai jorok yang meyakini bahwa menyiram adalah aktivitas sebelum membuang hajat dan bukan setelahnya. Lihatlah mereka yang bekerja serabutan menjadi kuli, tukang sapu jalan, tukang pacul, pedagang asongan, supir angkot, tukang ojek dengan pendapatan senin kemis. Lihatlah mereka yang terpaksa mengemis karena tak ada pekerjaan.
Ketika hari ini sulit bagi kita untuk bersyukur maka lihatlah mereka yang sedikit memiliki namun masih sempat mengucap syukur. Lihatlah mereka yang ikhlas berkubang dengan kemiskinan. Lihatlah mereka yang sabar bergelut dengan kesulitan. Bukankah dengan semua yang ada pada kita hari ini, Tuhan lebih berhak mendengar rasa syukur terucap dari bibir kita dibanding dari mereka. Tetapi kita gagal melihat dan merasakan semuanya. Hari ini, saat ini, apa yang ada disini, terlalu biasa untuk kita. Tidak cukup istimewa untuk sekedar disyukuri.
Maka behentilah sejenak. Duduklah di bawah pohon yang rindang itu, di tepi jalan yang sedang kau lalui itu agar terlihat jelas dimana keberadaanmu saat ini, darimana engkau telah memulai, apa yang telah engkau lewati, dan apa yang telah kau peroleh saat ini. Di tepi jalan itu, amatilah semuanya dengan meminjam kacamata orang lain. Maka, ketika itu jangan tahan bibirmu untuk mengucap AlhamduliLlaah...
Sekali lagi soal isi!
Ujung Timur Tebet, 15 Agustus 2011 03.22WIB
Sampai hari ini aku masih saja tidak mengerti sebab musyabab mereka begitu perhatian dengan apa-apa yang ada di luar. Ribut riuh rendah, hiruk pikuk berbicara mengenai penampilan. Saut menyaut, sambar menyambar, timpal menimpal tentang apa yang menurut mereka adalah yang “seharusnya”. Tapi semakin nyaring bunyinya semakin tahu aku bahwa di dalam, dibalik kulit luar yang mereka peributkan itu, kosong tak berisi. Tapi siapa juga yang peduli dengan isi, toh standar penilaian dibuat bukan terhadap isi, tapi terhadap apa yang tampak tersaji.
Hidup adalah soal rangkaian peristiwa yang terkait satu dengan lainnya. Maka memandang persoalan hidup dalam rangka mencari pemecahannya adalah persoalan megurutkan keterkaitan-keterkaitan itu dengan seksama. Boleh jadi persoalan yang ada di muka adalah resultan dari persoalan yang ada nun jauh di belakang sana. Karena setiap sebab adalah akibat dari sebab yang lain, begitu kata seorang filusuf. Tapi aku secara sederhana ingin mengatakan bahwa yang sedang diributkan itu bukanlah soalan inti yang menjadi asal muasal permasalahan yang sedang diperdebatkan itu. Karena setiap yang terlihat itu belum tentulah yang menjadi inti persoalan. Tapi siapa peduli dengan yang tidak terlihat, toh standar penilaian bukan untuk yang tersirat tapi yang tersurat.
Kalau begitu apa juga peduliku? Aku memang tak ingin peduli. Apalagi sudah kubilang di awal bahwa aku tak mengerti. Lalu kenapa pula aku menjadi peduli? Karena mereka memaksaku terlibat dalam perdebatan itu. Begitu pun aku tak kuasa untuk tidak melibatkan diri. Tetapi mohon jangan salahkan aku - dan bukan bermaksud ingin menimpakan kesalahan pada Tuhan yang menciptakanku - aku hanyalah manusia makhluk sosial yang tak mungkin hidup menyendiri. Karenanya demi eksistensiku di tengah perikehidupan manusia ini dan demi memenuhi takdir sosialku, aku melibatkan diri jua pada perdebatan tak berisi itu, mengikatkan diri pada kesepakatan prematur karena tak sempurnanya memandang inti persoalan, dan membiarkan diriku mengikuti aturan-aturan konyol tak berdasar..
Tetapi sekali lagi jangan salahkan aku, Kawan. Aku hanyalah makhluk sosial yang lemah. Tapi yakinlah bahwa aku hanya menggadaikan pada mereka diriku yang bagian luar saja. Tetapi didalam diriku, di inti jiwaku, di saripati keberadaanku, aku tetap lebih menghormati substansi daripada presentasi, isi daripada kulit, hakikat daripada derivat. Maka biarlah di luar aku turut mengamini mereka tapi di dalam hatiku tetap mengingkarinya walaupun ini tentu selemah-lemahnya keyakinan.
Eksistensiku
Ujung timur tebet, 17 juni 2011 01.12 WIB
tamparlah sekerasmu
kuberikan pula yang sebelah kiri untukmu
injaklah sekuatmu
biar kuberbaring untukmu
tusuklah jantungku
biar kusiapkan belatinya untukmu
caci maki aku
mungkin aku seperti persangkaanmu
puja puji aku
apa aku bisa mempercayaimu
iming-imingi aku
bagiku surgamu tak menarik aku
sayangku
kutinggalkan diriku untukmu
berbuatlah sesukamu
karena sesungguhnya aku
sudah meninggalkan aku
