Jingga

Ujung timur tebet, 29 November 2020

Jingga
Merekah di angkasa
Turun kemudian
Bawakan cahaya
Pada pagi yang muram
Menyingkap malam mencekam
Percik sejuk kelembutan
Mengetuk mata terpejam
Bangkit jemput harapan
Pada hari yang jelang
Bersama
Dekat lagi hangat
Jingga
Bukan sekedar warna
Dari lengkung bianglala
Atau riasan mega
Di hujung sore nan megah
Jingga
Di sana kuletak asa
Cita-cita
Doa
Rasa percaya
Pada mereka
Mulia bersahaja

Kampungan




Ujung timur tebet, 18 November 2020

Aneh benar orang kota ini. Jika ada yang menyimpang dari standar dan kualitas perilakunya maka disebutnya kampungan. Menempatkan kampung tertinggal di belakang atau terinjak di bawah. Seakan kota adalah segalanya. Tapi setiap minggu, berjamaah orang-orang kota menuju kampung, menjadi orang kampung, mengagumi kampung. Kampungan.

Akhir-akhir ini kampung sepertinya tidak lagi kampungan. Bahkan yang tidak ikut wisata ke kampung lah yang bisa-bisa dicap kampungan. Jika belum ada gambar treking di tengah sawah, duduk kelelahan di jalur pendakian, mandi di sungai, pose di bawah air terjun dengan tangan ke atas penuh kemenangan, terpajang di status atau story sosial media, rasanya ketinggalan sekali. Kampungan sekali.

Ternyata kota tidak hebat-hebat amat. Gedung-gedung tinggi kota memang mengagumkan tapi ternyata tidak cukup membuat hati tenteram. Toilet-toilet di dalamnya menawarkan kenyamanan fungsional tapi ternyata buang hajat di gunung jauh lebih melegakan. Air hangat yang keluar dari selang pancur kalah sensasional dari dinginnya air yang jatuh dari pinggir tebing saat menghantam punggung ringkih manusia kota. Tidak usah bandingkan udara sejuk yang berhembus dari ujung gunung dengan ac di langit-langit kamar. Pastilah angin gunung lebih perkasa. Hebatnya lagi, kampung memberikannya dengan gratis tanpa urusan bisnis. Kampungan.

Memang aneh orang kota ini. Ketika kota sudah menghisapnya tak bersisa, pergilah ia ke kampung untuk mengisi kembali energinya. Mungkin kota seperti hawa nafsu yang menggoda yang memalingkan dari fitrah sehingga membuat lelah. Maka bagi orang kota kembali ke kampung sama dengan kembali ke fitrah.

Ah, kampungan sekali!

Senja Bhakti Karya

Ujung timur tebet, 12 November 2020


Senja di bhakti karya
Saat hati sepi menepi
Menanti
Di atas sepeda motor tua
Tunggu seraut wajah tiba
Menyapa
Semilir angin bergilir
Layangkan rindu
Dalam pesan terbang
Keseberang jalan
Segeralah datang

Senja mulai mengalah
Segaris senyum mengusir resah
Merekah
Suara dari belakang telinga
Lamat-lamat cinta terasa
Mesra
Cepat-cepatlah dekat
Dekapku lebih erat
Biar terasa hangat
Seketika berangkat
Bersama hilang ke dalam gelap

Kuasa Rasa

Ujung timur tebet, 1 Oktober 2020

Pada akhirnya
Sejatinya
Kita semua manusia
Tidak pernah menjadi dewa
Bahkan tidak juga separuhnya
Sebab tiap kita punya rasa
Dan merasa
Kadarnya saja yang berbeda
Tergantung ada dimana,
Bagaimana dan mungkin juga kenapa
Karenanya aku tak pernah percaya
Bahwa manusia akan selalu sama
Yang kini baik esok bisa saja bejat
Yang bejat tidak juga selamanya jahat
Yang kini cantik mungkin tak lagi menarik
Yang tak menarik jadi memikat
Yang rendah hati tiba-tiba tinggi
Yang tinggi hati jatuh tersungkur
Beda masa beda rasa
Beruntunglah yang punya kuasa atas rasa
Amat sial mereka yang dipenjara rasa

Akhir akhir pekan

Ujung timur tebet, 21 Juni 2020

Aku ingin hari ini
Tidak pernah berganti
Tetap disini
Temani aku menari
Menyanyi
Dalam tidur hingga kuning mentari
Bunga-bunga rindu
Mulai tumbuh sejak sabtu
Merekah semerbak di hari minggu
Kukecup satu-persatu
Kuhirup dalam-dalam
Sebelum menjadi layu menjelang sore
Ah, senin
Kenapa selalu datang mengganggu
Bisakah kau cuti barang sehari
Biarkan minggu memeluk lebih dari sehari



Entah

Ujung timur tebet, 4 Juni 2020

Ada sesuatu yang selalu menganggu
Menggelitik, menarik kadang mencabik
Jari-jari iri mengikat
Jerat-jerat dengki
Kuat-kuat
Di sini
Di salah satu bagian hati
Bersatu membatu
Tak biarkan aku
Dikalahkannya aku
Selalu
Ah, aku
Tidak kah merasa lelah mengejar entah
Dipacu amarah pada entah
Bertanding melawan entah
Entahlah
Ayolah
Jangan biarkan ia
Walau sekedar sebesar zarah

Kembali Lagi

Ujung timur tebet, 24 Mei 2020

Hari ini dia pergi
Diiring riang wajah berseri
Tapi
Bukankah harusnya bersedih
Berpisah tak pernah menyenangkan
Bisa jadi tak pernah ada lagi pertemuan
Mengingat apa yang selalu dibawanya saat datang
Dan betapa mulia dirinya
Apa pasal melepasnya dengan gembira
Apakah karena tak ada lagi lelah bangun pagi?
Tak perlu menahan perih lambung hingga mentari pergi?
Pegal kaki terlalu lama berdiri?
Atau bosan dengan bacaan yang tak dimengerti?
Hari ini
Yang seharusnya fitri
Semua hilang bersamanya pergi
Aku malah berjingkrak menari
Rayakan kebebasan lagi
Menyimpan kembali semua ke dalam laci
Atau lemari
Membiarkannya berdebu hingga nanti
Jika sempat bertemu kembali
Ah, betapa bodohnya.
Na'uudzubiLlaahi min dzaalik