Tentang Gerak, Hijrah dan Pulang

Madinah,  3 Januari 2026


Nak,

Hidup mengharuskanmu untuk bergerak, karena gerak adalah tanda kehidupan. Gerak adalah sunnatullah. Bahkan ibadah pun menghendaki gerak—dalam niat, dalam cara, dan dalam tujuan. Ada gerak hati, gerak pikir, dan gerak laku. Dengan bergerak, kita berpindah: dari satu tempat ke tempat lain, dari satu keadaan ke keadaan yang lain. Gerak berarti tumbuh dan berkembang. Ia adalah energi, sekaligus perubahan.


Nak,

Ujung jalan ini dahulu adalah akhir dari perjalanan hijrah Nabi yang mulia—awal dari sebuah kehidupan baru dan peradaban baru. Dari sanalah cahaya menerangi dunia. Hijrah mengajarkan bahwa bergerak dan berpindah adalah keharusan untuk meraih kebaikan. Bumi Allah itu luas; rezeki dan rahmat-Nya bertebaran di setiap penjuru. Maka berjalanlah, menelusuri arah-arah yang mungkin. Takdir harus dijemput, bukan ditunggu dalam diam.


Nak,

Berubah adalah ikhtiar yang niscaya. Tumbuh dan berkembang adalah keharusan. Maka bergeraklah, berpindahlah, berhijrahlah. Kita tak pernah tahu di mana dan kapan kebaikan menanti. Namun satu hal yang pasti: ia tak akan ditemukan dalam keheningan tanpa usaha. Air yang menggenang akan keruh dan membawa penyakit, sementara air yang mengalir bersih dan penuh manfaat. Jangan sesali masa lalu, jangan ratapi keadaan, dan jangan memusuhi nasib. Berikhtiarlah dengan segenap daya, bersungguh-sungguhlah, lalu selepas itu bertawakallah.


Nak,

Ada satu hal yang harus selalu kau ingat. Ke mana pun kau melangkah, bagaimanapun kau berubah, tetaplah memulai dari Allah dan mengakhirinya dengan Nya. Sebagaimana Nabi yang mulia, diujung hijrahnya, memulai dengan membangun masjid atas dasar takwa. Maka, jika hidup mengahantarmu ke tempat baru, carilah masjid di sana. Jika tak kau temukan, bangunlah ia di dalam hatimu. Dengan begitu, kau akan tahu dari mana kau memulai, mengapa kau memulai, dan ke mana kau hendak menuju. Kau akan selalu memiliki tempat kembali saat lelah dan sepi menerpamu; tempat mengadu dan berlindung ketika kenyataan menghantam dan menjatuhkanmu.


Nak,

Hijrahkan batinmu—dan ragamu bila perlu. Jangan khawatir, karena Allah akan selalu bersamamu, selama kau memberi-Nya ruang di hatimu. Pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa cepat kita sampai, melainkan keberanian untuk melangkah ketika jalan terasa panjang dan sunyi. Jika suatu hari kau lelah, berhentilah sejenak—bukan untuk menyerah, tetapi untuk mengingat dari mana dan untuk apa kau berangkat. Selama langkahmu dimulai dari Allah, tak ada gerak yang sia-sia, tak ada hijrah yang benar-benar kehilangan arah. 


Nak,

Teruslah berjalan. Sebab hidup, sebagaimana iman, selalu tumbuh dalam gerak.

Doa Kembali: Tentang Lelah, Pasrah dan Pulang

Madinah, 1 Januari 2026

Bawalah bebanmu yang bertumpuk memberatkan pundak.
Bawalah persoalanmu yang ruwet berkelindan menyesakkan dada.
Bawalah lelahmu yang menguras tenaga dan pikiran.

Di sini, kita akan menemukan tenang dan damai.
Bukan karena persoalan yang serta-merta selesai,
melainkan karena di sini kita kembali belajar pasrah —
kepada Dia Yang Maha Kuasa, Maha Pengasih, Maha Penyayang.

Di sini, kita kembali merajut keyakinan,
bahwa hanya kepada-Nya kita meminta,
dan hanya kepada-Nya kita memohon pertolongan.

Ya, kembali.
Karena sejatinya Dia tidak pernah meninggalkan kita.

Demi waktu dhuha dan malam yang sunyi,
sekali-kali Dia tidak meninggalkanmu dan tidak pula membencimu.

Kitalah yang meninggalkan-Nya.
Larut dalam kesibukan seolah semua berada dalam kendali kita,
tenggelam dalam urusan dunia seakan itu yang paling penting, 
hanyut dalam sedih serta putus asa seolah hidup begitu kejam kepada kita.

Kita lupa bahwa sesungguhnya kita lemah,
dan tidak memiliki daya serta upaya
kecuali dengan izin-Nya.
Ingatlah kembali nikmat yang telah Dia anugerahkan:
pengasuhan dan kasih sayang,
rezeki dan petunjuk. Ingatlah, tanpa Nya kita bukan apa-apa.

Lalu mengapa kita berhenti bersyukur?
Mengapa kita berhenti berdoa dan meminta pada Nya?
Bukankah pada akhirnya ketetapan-Nya yang kita cari,
dan ridho-Nya yang kita rindukan?

Di kota yang suci,
di masjid yang agung,
di dekat makam Nabi yang mulia,
kita kembali ke pelukan-Nya —
sebagai hamba yang lemah dan rapuh,
yang memohon pertolongan-Nya,
yang merajut harap pada rahmat-Nya,
dan membangun yakin pada kebesaran kuasa-Nya.

Ya Allah,
kami datang kembali kepada-Mu.
berkenanlah Engkau menghilangkan lelah kami,
mengangkat beban kami,
dan menyelesaikan persoalan kami dengan cara-Mu yang paling lembut.

Jadikan kami hamba yang bersyukur dan ikhlas atas setiap ketetapan-Mu.
Anugerahkan kepada kami hati yang tenang.